Cetak Biru Bisnis Satelit Indonesia

Posted: Agustus 13, 2012 in Bisnis Dan Industri Telekomunikasi

Oleh : Gempar Ikka Wijaya

Posisi Ideal Peluncuran Satelit Indonesia

Tingkat kegagalan peluncuran satelit di luar khatulistiwa sebenarnya jauh lebih besar, sehingga kegagalan peluncuran Satelit Telkom 3  sudah menjadi sebuah kejadian yang diramalkan secara teknis sebagai hal yang lumrah terjadi.

Satelit yang dibangun oleh ISS Reshetnev (Russia) dengan perlengkapan komunikasi oleh Thales Aleniaspace (Italia) memiliki total biaya pembangunan hingga peluncuran setara Rp 1,9 trilyun (US $ 200 juta, pada kurs US $ 1 = Rp 9.500). Dalam proses penempatan di orbitnya, Satelit Telkom-3 yang seharusnya menempati orbit geostasioner gagal menempati orbit tersebut. Orbit GSO atau geostasioner adalah yakni orbit berbentuk lingkaran yang terletak pada ketinggian 35.786 km tepat di atas garis khatulistiwa, dalam orbit ini periode revolusi satelit tepat sama dengan periode rotasi Bumi, yakni 23 jam 54 menit 4 detik.

Agar bisa mengirim muatannya ke orbit geostasioner dengan sempurna, roket pendorong Briz-M Phase II upperstage harus dinyalakan secara bertahap hingga lima kali tahapan dengan total waktu penyalaan hingga 50 menit. Penyalaan pertama berjalan dengan lancar. Demikian halnya penyalaan kedua, yang berlangsung pada 7 Agustus 2012 pukul 02:38 WIB dan berlangsung selama 17 menit 55 detik. Suksesnya penyalaan kedua menyebabkan Briz-M terdorong hingga menempati orbit lonjong dengan perigee 266 km dan apogee 5.014 km. Namun kedua sukses ini tidak diikuti oleh penyalaan ketiga. Pada pukul 06:00 WIB pada saat roket berada di atas Chile, penyalaan tahap ketiga Briz-M dimulai. Seharusnya roket Briz-M menyala selama 18 menit 7 detik, namun saat baru berjalan 7 detik mendadak mesin roketnya mati tanpa bisa dinyalakan lagi. Implikasinya, Briz-M pun segera melepaskan satelit Telkom-3 dan 30 menit kemudian menyusul satelit Ekspress-MD2 dan diakhiri dengan pelepasan tanki bahan bakar tambahan.

Kegagalan Satelit Telkom-3 mencapai orbitnya adalah kegagalan yang kesekian kalinya dalam sejarah Satelit Indonesia. Satelit Palapa B-2 adalah Satelit pertama yang juga perah gagal lepas dari orbit Geostasioner pada kisaran dekade 1980-an. Kegagalan yang terjadi kali ini hanyalah sebuah pengulangan saja, meskipun menjadi sebuah catatan yang ironis. Pada kisaran dekade 1990-an sebuah satelit yang diluncurkan Indonesia Cakrawarta juga mengalami interferensi parah dengan Satelit Tonga yang diluncurkan dalam posisi sangat berdekatan dengan Cakrawarta, sehingga beberapa transpondernya mati karena interferensi. Demikian pula satelit Palapa C-1 yang gagal dilakukan proses recharging batteraynya sehingga Satelit palapa C-1 dinyatakan tidak layak digunakan kembali pada tahun 1998, setelah 2 tahun beroperasi sejak tahun 1996.

Tidak Mengambil Manfaat Dari Bisnis Satelit

Meski termasuk negara pertama yang memiliki Satelit Telekomunikasi di Asia, Indonesia masih belum memiliki blue print arah pengembangan bisnis satelit yang jelas. Industri satelit masih sangat minim berkembang di Indonesia. satelit yang dirancang Lapan, masih hanya menjadi sebuah Satelit yang jauh dari dapat diunggulkan secara komersial, atau memang sengaja tidak akan dikembangkan untuk kebutuhan komersial.

Harga krang lebih 200-300 juta US Dollar sebuah satelit atau setara dengan 1,8-1,9 Trilyun rupiah tidak terlalu berarti bagi perusahaan pemilik satelit (Baca: Telkom, dan operator satelit lain di Indonesia), karena nilai bisnisnya yang jauh lebih besar dari nilai 1,8 Trilyun tersebut.

Tidak ada yang kemudian berani memikirkan lebih berani untuk mengembangkan industri Satelit Nusantara dan membelanjakan nilai yag sangat besar itu untuk kebutuhan pengembangan indusri dalam negeri. Padahal lebih dari selusin Satelit yang saat ini telah dimiliki oleh Indonesia. Akan tetpi jauh lebih mudah membeli dibandingkan dengan mengembangkan industrinya di dalam negeri dan membiarkan riset LAPAN hanya dalam kisaran riset dan pengembangan riset yang sangat terbatas.

Perlu Blue Print Pengembangan Industri Satelit Nasional

Posisi Indonesia sangat strategis di khatulistiwa membuat jarak ke arah orbit geostasioner jauh lebih dekat dibandingkan dengan lokasi lain di dunia. Beberapa dekade tahun yang lalu sebuah rencana pengembangan Biak sebagai sentra peluncuran Satelit gagal direalisasikan, karena memang tidak pernah ada keseriusan dan keberanian mengemban amanah industri telekomunikasi nasional yang mandiri.

Secara perhitungan resiko teknis dan bisnis, Biak memiliki tingkat keamanan yang lebih dalam proses peluncuran Satelit, karena jaraknya yang sangat dekat dengan orbit GSO dan posisi tepat di bawah khatulistiwa. beberapa negara seperti China, India, Jepang, Rusia, Eropa, bahkan Amerika bisa memilih Biak untuk lokasi peluncuran Satelitnya, akan tetapi hal ini tidak dilakukan, karena latar belakang kelemahan marketing atau ketidakpedulian pada keunggulan posisi Indonesia terhadap orbit GSO. Dengan sebuah kemasan marketing yang bagus Kominfo atau Sekretariat negara secara ideal dapat menawarkan lokasi ini untuk pengembangan industri dalam negeri. Akan tetapi dalam kenyataannya memang tidak lah mudah mengemas sebuah kelebihan negara sendiri untuk kepentingan yang jauh lebih besar lagi.

Sebuah dokumen tentang Road Map satelit Indonesia pada tahun 2008 yang lalu disusun oleh Kominfo via Dirjen Postel, akan tetapi dokumen 53 halaman tersebut gagal memetakan dan memberikan gambaran arahan pengelolaan industri Nasional satelit Indonesia yang lebih fokus dan terarah. Bagaimana memanfaatkan teknologi Satelit Komunikasi untuk mendukung ekonomi, pemanfaatan satelit untuk eksploitasi berbagai sumber daya nasional dan dalam rangka peningkatan daya saing nasional juga tidak disentuh dalam road map tersebut. Bahkan yang paling sederhana jika sebuah peluncuran satelit kemudian gagal seperti kasus Telkom-3, tidak pernah ada kajian mendalam mengenai proses back up jika proses perencanaan sederhana dalam Road map tersebut gagal direalisasikan.

Meski secara jujur perencanaan dan perhitungan kebutuhan satelit untuk kebutuhan Teknologi Informasi Nasional sudah dihitung dengan cukup lengkap, akan tetapi kebutuhan non TIK yang memiliki dimensi sangat beragam dan luas, gagal dipotret dan direncanakan dengan baik. Dokumen Road map yang seharusnya mampu memberikan perspektif pemanfaatan satelit bagi peningkatan daya saing secara luas non TIK gagal dipotret dalam dokumen tersebut. (GIW)

Daftar Satelit-satelit Milik Indonesia sebuah Catatan Sejarah

Lebih dari selusin Satelit saat ini telah dimiliki Indonesia. Sebagai negera pemilik Satelit ketiga di dunia Indonesia termasuk negara yang paling maju dalam bisnis dan pengoperaasian Satelit Telekomunikasi. Berikut adalah daftar Satelit milik Indonesia yang pernah diluncurkan dan atau sedang beroperasi atau yang telah usai beroperasi.

No. Nama Mulai Operasi
(diluncurkan)
Akhir Operasi Slot Orbit Pengelola Wahana luncur Pembuat Keterangan
1. Palapa A1 8 Juli 1976 Juni 1985[1] 83° BT Perumtel Delta-2914 Hughes (HS-333)[2] Diluncurkan dari Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral, Amerika Serikat.
2. Palapa A2 10 Maret 1977 Januari 1988[1] 77° BT Perumtel Delta-2914 Hughes (HS-333)[2] Diluncurkan dari Kennedy Space Center.
3. Palapa B1 18 Juni 1983[3] 1990 108° BT Perumtel Challenger F2
(STS-7)
Hughes (HS-376)[2] Diluncurkan menggunakan pesawat ulang-alik.
4. Palapa B2 3 Februari 1984
8:00 EST
Gagal Perumtel Challenger F4
(STS-41-B)
Hughes (HS-376)[2] dilepas dari wahana pada 16:00 EST[4], gagal dan dijemput oleh STS-51A pada November 1984[1]
5. Palapa B2P 21 Maret 1987 Februari 1996[1] 113° BT Perumtel
Satelindo
Delta 6925 Hughes (HS-376) Beralih kepemilikan ke Satelindo pada 1993,[2] dan diganti Palapa C1.[1]
6. Palapa B2R 13 April 1990 2000 108° BT Perumtel Delta 6925 Hughes (HS-376) Merupakan Palapa B2 yang diperbaiki oleh Sattel Technologies,[1]
7. Palapa B4 14 Mei 1992
7:40 WIB[5]
2005[2] 118° BT Telkom Delta II-7925 Hughes (HS-376) Diluncurkan dari Kennedy Space Center.
8. Palapa C1 31 Januari 1996 1999 113° BT Satelindo Atlas-2AS Hughes (HS-601) Diluncurkan dari Tanjung Canaveral LC-36B.[6]
Gagal beroperasi sehingga pada Januari 1999 beralih kepemilikan ke Hughes dan berganti nama menjadi HGS3.
Desember 2000 disewa Kalitel dari AS di 50º BT dan menjadi Anatolia 1, Agustus 2002 disewa Pakistan di 38ºBT menjadi Paksat1.[7]
9. Palapa C2 15 Mei 1996 2011[6] 113° BT Satelindo
Indosat
Ariane-44L H10-3 Hughes (HS-601) Diluncurkan dari Kourou, Guyana Perancis.[6]
Orbit akan dipindahkan ke 105,5° BT karena 113° BT akan ditempati Palapa D.[8]
10. Indostar I (Cakrawarta I) 12 November 1997 2011 107,7° BT[9] Indovision Ariane-44L H10-3[10] CTA -> Orbital Sciences Corporation (OSC)
(Star-1)
Diluncurkan dari dari Kourou, Guyana Perancis.
11. Telkom-1 12 Agustus 1999,
21:48 UTC
2016 108° BT Telkom Ariane IV Lockheed Martin
(A2100A)[2]
12. Garuda-1 12 Februari 2000[11] 2015 123° BT[12] Asia Cellular Satellite (ACeS) Proton K Blok-DM3 Lockheed Martin
A2100AXX[13]
ACeS adalah patungan PSN dan perusahaan asing.[14]
Diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan.
13. Telkom-2 16 November 2005 Beroperasi 108° BT Telkom Ariane V Orbital
(Starbus 2)[2]
Diluncurkan dari dari Kourou, Guyana Perancis.
14. INASAT-1 2006 Satelit pertama buatan Indonesia.
15. LAPAN-TUBSAT(Lapan A-1) 2007 Satelit mikro pertama Indonesia.untuk melakukan identifikasi gerak kapal laut, identifikasi bencana, dan sebagainya
16. Indostar II (Cakrawarta II) 16 Mei 2009, 7:58 WIB 2024 107,7° BT Indovision Proton-M Briz-M Boeing
(BSS-601HP)
Diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome (LC-200/39), Kazakhstan.[15][16]The Indostar 2 / ProtoStar 2 was launched in 2009. In Late 2009 the satellite was sold in an auction to SES after the ProtoStar venture succumbed to multiple frequency-coordination issues. The satellite was renamed SES 7in May 2010.The spacecraft was originally built as Galaxy 8iR, which was cancelled in 2004. For use as ProtoStar 2 the payload was modified to contain 10 S-band transponders, which will act as a replacement for the Indostar 1 satellite. The S-band payload is operated under the name of Indostar 2 (Cakrawarta 2).
17. Palapa D 31 Agustus 2009 16:28 WIB 2024 113° BT Indosat Long March 3B Thales Alenia Space
(Spacebus-4000B3)
Diluncurkan dari Xichang Satellite Launch Center (XSLC), Cina.
Menggeser orbit Palapa C2 dari 113° BT ke 105,5° BT.
18. Telkom-3 2011 2026 ? Telkom Proton-M Briz-M ISS Reshetnev
(Ekspress-1000N)
& Alcatel (Payload)
Proses tender selesai pada Desember 2008.Gagal dalam peluncuran
19. Lapan A-2 Juni 2013 Peluncuran dari Indiamitigasi bencana. Satelit ini memiliki sensor Automatic Identification System (AIS) untuk identifikasi kapal layar yang melintas di wilayah yang dilewati satelit tersebut

Satelit Palapa

Satelit pertama diluncurkan pada tanggal 8 Juli 1976 oleh roket Amerika Serikat dan dilepas di atas Samudera Hindia pada 83° BT. Satelit pertama dari 2 satelit itu bertipe HS-333 dan bermassa 574 kg.

Kemudian 4 satelit dari seri kedua dibuat, yang kesemuanya dari tipe Hughes HS-376. Ketika peluncuran Palapa B2 gagal, satelit ke-3 diatur. Awalnya bernama Palapa B3 dan dijadwalkan untuk STS-61-H, akhirnya diluncurkan sebagai Palapa B2P. Sementara itu Palapa B2 diperbaiki kembali oleh STS-51-A, diperbaharui dan diluncurkan lagi sebagai Palapa B2R.

Palapa B2 adalah satelit generasi kedua yang dibuat oleh Boeing Satellite Development Center untuk Perumtel.[1] Satelit ini diluncurkan pertama kali pada tahun 1984. Setelah gagal dalam peluncurannya, pada tahun 1990 satelit ini diluncurkan kembali dengan nama Palapa B2R.[2]

Satelit Palapa B2 beroperasi di frekuensi C-band, dan menerima frekuensi dari 5,925 GHz sampai 6,415 GHz dan memiliki transmisi dari 3,7 GHz sampai 4,2 GHz. Satelit ini memancarkan sinyal cukup kuat di Indonesia dan beberapa wilayah dari negara-negara ASEAN termasuk Papua Nugini.

Palapa B2 memiliki diameter 7 kaki 1 inci dan tinggi 9 kaki 4 inci dalam posisi tersimpan. Dengan antena selebar 6 kaki dan panel surya luar yang diperpanjang.

Satelit ini memiliki panjang 22 kaki 10 inci dengan pesawat luar angkasa. Beratnya 1.525 pound pada awal kehidupan di orbit. Empat pendorong menggunakan propelan hidrazin memberikan stationkeeping dan kontrol sikap selama hidup satelit. Dua panel sel surya menghasilkan 1.100 watt daya listrik pada awal kehidupan di orbit. Empat pendorong menggunakan propelan hidrazin memberikan stationkeeping dan kontrol sikap selama hidup satelit. Dua panel sel surya menghasilkan 1.100 watt daya listrik pada awal kehidupan di orbit. Baterai nikel kadmium Dua memberikan kekuatan penuh selama gerhana ketika pesawat antariksa melewati bayangan Bumi.

Setelah gagal dalam peluncurannya satelit Palapa B2 Dibeli dan didaur ulang oleh Sattel Technologies kemudian dibeli kembali oleh Perumtel pada tahun 1990 dengan nama Palapa B2R.

1. Satelit Palapa A1  tahun 1976 – Satelit pertama di Indonesia

2. Sateli Palapa A2 (1977)

Palapa A2 adalah satelit komunikasi milik Indonesia dan dioperasikan oleh Perumtel. Palapa A2 diluncurkan pada tanggal 10 Maret 1977 dengan roket Delta 2914 dan beroperasi di orbit 77 BT sejak tanggal 11 Maret 1977 hingga bulan Januari 1988, 4 tahun melewati masa operasional yang direncanakan.

Satelit Palapa A2 1977

Program satelit Palapa A dimulai saat Pemerintah Indonesia memberikan 2 kontrak terpisah pada Boeing Satellite Systems (dahulu dikenal dengan Hughes Space and Communication Inc.) dari Amerika Serikat untuk menyediakan 2 satelit (Palapa A1 dan A2), sebuah stasiun kontrol utama untuk kedua satelit tersebut dan 9 stasiun bumi. Pembangunan 10 stasiun tersebut diselesaikan dalam waktu 17 bulan, salah satu yang tercepat bagi Boeing. Pada kontrak terpisah, dibangun total 30 stasiun bumi lainnya untuk dioperasikan oleh Perumtel. Nama Palapa sendiri dipilih oleh Presiden Suharto pada bulan Juli 1975. Satelit Palapa A2 dimaksudkan sebagai cadangan dan siap untuk dioperasikan apabila Palapa A1 mengalami kegagalan, atau jika permintaan pasar tidak dapat lagi diakomodasi oleh Palapa A1.

3. Satelit Palapa B2P (1987)

Satelit Palapa B2P adalah satelit yang mengitari orbit geosynchronous dan bergerak dari barat ke timur dengan kecepatan yang sama dengan rotasi Bumi. Satelit ini terletak pada ketinggian 36.000km diatas khatulistiwa pada lokasi 113°BT dan dikendalikan oleh stasiun yang terletak di Bumi tepatnya di daerah Cibinong. Satelit Palapa merupakan satelit relay bagi stasiun bumi yang selanjutnya memancarkan kembali siaran ke televisi dengan transponder Palapa yang bekerja pada jarak 6 gigahertz dengan kekuatan pancar 10 watt.

Satelit Palapa B2P yang sesungguhnya dibuat untuk keperluan domestik serta ditujukan untuk disewakan ke mancanegara ternyata mampu menjaring bisnis yang sangat baik, dan karenanya Palapa B2P menjadi satelit rebutan. Para penyelenggara penyiaran (CNN, ESPN) menggunakan Palapa B2P, sehingga masyarakat yang berada dalam area cakupan Palapa B4 dapat menerima program-progam mereka.

4. Satelit Palapa C1 (1996)

Satelit Palapa C1 1996
Satelit Palapa C1 adalah satelit komunikasi pertama dalam generasi Palapa C yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT. Satelit Palapa Indonesia (Satelindo). Palapa C1 diproduksi oleh Hughes (Amerika Serikat, AS) dan diluncurkan pada tanggal 31 Januari 1996 di Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral (LC-36B) AS, menggunakan roket Atlas 2AS. Satelit ini dimaksudkan sebagai pengganti satelit Palapa B4 pada Orbit Geo Stasioner slot 113º BT dengan rentang operasi selama 7 tahun. Namun setelah terjadi kegagalan pengisian battery pada tanggal 24 November 1998 akhirnya Palapa C1 dinyatakan tidak layak beroperasi dan digantikan oleh Palapa C2.

5. Satelit Palapa C2 (1996)

Satelit Palapa C2 1996

Satelit Palapa C2 adalah satelit komunikasi kedua dalam generasi Palapa C yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT. Satelit Palapa Indonesia (Satelindo). Palapa C2 diproduksi oleh Hughes (Amerika Serikat, AS) dan diluncurkan pada tanggal 15 Mei 1996 di Kourou, Guyana Perancis (Ko ELA-2), menggunakan roket Ariane-44L H10-3. Satelit ini beroperasi pada Orbit Geo Stasioner slot 113º BT di ketinggian 36.000 km di atas permukaan bumi. Operasional satelit ini berpindah tangan ke PT. Indosat Tbk. akibat penggabungan Satelindo dengan Indosat. Demi memberi tempat bagi Satelit Palapa D, rencananya orbit satelit ini dipindah ke 105,5° BT.

6. Satelit TELKOM-2 (2005)

Satelit TELKOM-2 2005
Telkom-2 adalah satelit yang diluncurkan Telkom ke angkasa untuk menggantikan satelit Palapa B4. Satelit ini dibawa ke angkasa dengan menggunakan roket Ariane 5 dari Kourou di Guyana Perancis pada tanggal 16 November 2005.

Telkom-2 memiliki umur operasi selama 15 tahun dan bernilai sekitar 170 juta dolar AS. Sekitar 70 persen kapasitas transponder Telkom-2 akan disewakan kepada pihak luar.

Dari 30 persen kapasitas yang akan digunakan sendiri oleh Telkom, satelit buatan Orbital Sciences Corporation ini diharapkan akan mendukung sistem komunikasi transmisi backbone yang meliputi layanan telekomunikasi sambungan langsung jarak jauh (SLJJ), sambungan langsung internasional (SLI), internet, dan jaringan komunikasi untuk kepentingan militer.

Satelit ini akan beredar di orbit 118° BT dengan kapasitas 24 transponder C-band dan berbobot 1.975 kg. Daya jangkaunya mencapai seluruh ASEAN, India dan Guam.

7. Satelit INASAT-1 (2006) Satelit Pertama buatan Indonesia

INASAT-1 adalah Nano Hexagonal Satelit yang dibuat dan didesain sendiri oleh Indonesia untuk pertama kalinya. INASAT-1 merupakan satelit metodologi penginderaan untuk memotret cuaca buatan LAPAN.

Satelit INASAT-1 2006 Satelit Pertama buatan Indonesia

Selain itu INASAT-1 adalah satelit Nano alias satelit yang menggunakan komponen elektronik berukuran kecil, dengan berat sekitar 10-15 kg. Satelit itu dirancang dengan misi untuk mengumpulkan data yang berhubungan erat dengan data lingkungan (berupa fluks magnet didefinisikan sebagai muatan ilmiah) maupun housekeeping yang digunakan untuk mempelajari dinamika gerak serta penampilan sistem satelit.

Adapun satelit itu dirancang bersama oleh PT Dirgantara Indonesia dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), khususnya Pusat Teknologi Elektronika (Pustek) Dirgantara. Berbekal nota kesepakatan antara LAPAN, Dirgantara Indonesia, serta dukungan dana dari Riset Unggulan Kemandirian Kedirgantaraan 2003, maka dimulailah rancangan satelit Nano dengan nama Inasat-1 (Indonesia Nano Satelit-1).

Dari segi dinamika gerak akan diketahui melalui pemasangan sensor gyrorate tiga sumbu, sehingga dalam perjalanannya akan diketahui bagaimana perilaku geraknya. Penelitian dinamika gerak ini menjadi hal yang menarik untuk satelit-satelit ukuran Nano yang terbang dengan ketinggian antara 600-800 km.

8. Satelit LAPAN-TUBSAT (2007) Satelit Mikro Pertama di Indonesia.
LAPAN-TUBSAT adalah sebuah satelit mikro yang dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bekerja sama dengan Universitas Teknik Berlin (Technische Universität Berlin; TU Berlin). Wahana ini dirancang berdasarkan satelit lain bernama DLR-TUBSAT, namun juga menyertakan sensor bintang yang baru. Satelit LAPAN-TUBSAT yang berbentuk kotak dengan berat 57 kilogram dan dimensi 45 x 45 x 27 sentimeter ini akan digunakan untuk melakukan pemantauan langsung situasi di Bumi seperti kebakaran hutan, gunung berapi, banjir, menyimpan dan meneruskan pesan komunikasi di wilayah Indonesia, serta untuk misi komunikasi bergerak.

Satelit LAPAN TUBSAT 2007 Satelit Mikro Pertama di Indonesia

LAPAN-TUBSAT membawa sebuah kamera beresolusi tinggi dengan daya pisah 5 meter dan lebar sapuan 3,5 kilometer di permukaan Bumi pada ketinggian orbit 630 kilometer serta sebuah kamera resolusi rendah berdaya pisah 200 meter dan lebar sapuan 81 kilometer.

Manuver attitude ini dilakukan dengan menggunakan attitude control system yang terdiri atas 3 reaction wheel, 3 gyro, 2 sun sensor, 3 magnetic coil dan sebuah star sensor untuk navigasi satelit. Komponen-komponen inilah yang membedakannya dengan satelit mikro lain yang hanya mengandalkan sistem stabilisasi semi pasif gradien gravitasi dan magneto torquer, sehingga sensornya hanya mengarah vertikal ke bawah.

Sebagai satelit pengamatan, satelit ini dapat digunakan untuk melakukan pemantauan langsung kebakaran hutan, gunung meletus, tanah longsor dan kecelakaan kapal maupun pesawat. Tapi pengamatan banjir akan sulit dilakukan karena kamera tidak bisa menembus awan tebal yang biasanya menyertai kejadian banjir.

9. Indostar II / Cakrawarta II (2009)

Indostar II Cakrawarta II 2009

Indostar II atau Cakrawarta II adalah satelit yang diluncurkan oleh PT Media Citra Indostar (MCI) yang mengelola dan mengoperasionalisasi satelit Indovision. Satelit ini diluncurkan dengan menggunakan roket peluncur Proton Breeze milik Rusia dan lepas landas melalui Baikonur Cosmodome di Kazahkstan. Peluncuran satelit Indostar II ini telah berlangsung pada tanggal 16 Mei 2009.

10. Satelit Palapa D (2009)
Satelit Palapa D 2009

Satelit Palapa D (kode internasional = 2009-046A) adalah satelit komunikasi Indonesia yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT. Indosat Tbk dan diluncurkan pada tanggal 31 Agustus 2009 pukul 16:28 WIB di Xichang Satellite Launch Center (XSLC) menggunakan roket Long March (Chang Zheng) 3B. Satelit ini dibuat oleh Thales Alenia Space, Perancis, dan dimaksudkan sebagai pengganti satelit Palapa C2 pada Orbit Geo Stasioner slot 113º BT yang akan selesai masa operasionalnya pada tahun 2011.

Palapa D dipesan[1] pada tanggal 29 Juni 2007 oleh perusahaan Indonesia PT Indosat Tbk, kepada Thales Alenia Space. Itu adalah Spacebus 4000B3 yang akan dibuat di Pusat Luar Angkasa Cannes Mandelieu.

(GIW)

News Clip :

http://www.merdeka.com/uang/nasib-satelit-bernilai-rp-18-triliun.html

Rabu, 8 Agustus 2012 08:31:00

Nasib satelit bernilai Rp 1,8 triliun

Peluncuran Satelit Telkom-3 dari BaikonurCosmodrome, Kazakhstan, Selasa dini hari (7/8) telah mengalami anomali sehingga tidak mencapai orbit sesuai yang direncanakan. Satelit milik PT Telekomunikasi Indonesia tersebut gagal mengorbit bersama satelit Ekspress-MD2 yang juga bernasib sama.

PT Telkom telah mendapat informasi tertulis dari First Deputy General Designer &General Director dari ISS Reshetnev, Rusia selaku perusahaan kontraktor utama satelit Telkom-3 bahwa telah terjadi anomali pada saat peluncuran SatelitTelkom-3 di tahap pengoperasian roket peluncur Breeze-M sehingga menyebabkan satelit hanya mencapai intermediate orbit.

“Pada saat ini pihak ISS Reshetnev sedang melakukan investigasi lebih lanjut atas kejadian ini dan akan segera menyampaikan hasilnya kepada Telkom,” jelas Head of Corporate Communication and Affair Telkom, Slamet Riyadi kepada merdeka.com, Selasa (7/8) malam.

Lalu, bagaimanakah nasib satelit senilai USD 200 juta atau setara Rp 1,8 triliun tersebut? Slamet mengatakan belum dapat memastikan apakah pihak Rusia akan mengganti rugi satelit tersebut atau tidak. Yang jelas, kata dia, Telkom mengantongi asuransi dari perusahaan Rusia pembuat Satelit Telkom-3.

“Kita full asuransi. Tapi saya belum bisa bicara sekarang soal ganti rugi,” katanya.

Melalui koordinasi intensif dengan pihak ISS Reshetnev, Telkom berharap mendapatkan informasi rinci dalam waktu dekat. Sejauh ini, kata dia, tidak ada gangguan berarti dari kegagalan peluncuran satelit Telkom-3 tersebut.

“Anomali ini tidak mengganggu operasional dan layanan Telkom, karena Telkom saat ini mengoperasikan dan menggunakan beberapa satelit,” katanya.

Kelengkapan telekomunikasi Satelit Telkom-3 dibikin oleh pabrik Thales Aleniaspace. Niatnya, satelit itu bakal digunakan buat menambah kapasitas transponder untuk mengembangkan bisnis telekomunikasi di tanah air.

[oer]

http://www.merdeka.com/uang/satelit-telkom-3-dipastikan-tak-dapat-digunakan.html

Kamis, 9 Agustus 2012 19:44:13

Satelit Telkom-3 dipastikan tak dapat digunakan

PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) telah menetapkan rencana cadangan untuk satelit Telkom-3 yang gagal orbit dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan, Selasa dini hari (7/8). Telkom telah mendapat penjelasan dari pihak ISS Reshetnev selaku perusahaan pembuat satelit Telkom-3.

Head of Corporate Communication and Affair Telkom Slamet Riyadi mengungkapkan, saat ini satelit Telkom-3 melayang di ketinggian maksimum 5.014 kilometer. Ketinggian tersebut masih jauh dari ketinggian orbit yang diharapkan, yaitu 36.000 kilometer.

“Dengan demikian satelit tersebut kemungkinan besar tidak akan dapat digunakan,” ungkap Slamet di Jakarta, Kamis (9/8).

Slamet mengatakan, sebelum hasil preliminary calculation diterima, pihaknya telah mengambil langkah penanganan kondisi darurat dan prioritas untuk menjamin pelayanan dan operasional telekomunikasi bagi pelanggan tidak akan terganggu. “Karena Telkom saat ini menggunakan dan mengoperasikan beberapa satelit,” tegasnya.

Selain itu, dari sisi keuangan, kejadian anomali peluncuran satelit Telkom-3 juga tidak memberikan dampak signifikan. “Karena telah diasuransikan secara penuh,” katanya.

Menurutnya, rencana cadangan merupakan bagian dari prosedur operasional di Telkom. Tidak terkecuali untuk transponder satelit. Untuk Satelit Telkom-3, langkah cadangan sudah dilakukan sebelum satelit diluncurkan. Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang sudah mendaftar dan mengantisipasi permintaan, Telkom melakukan penyewaan satelit yang cakupannya kurang lebih sama dengan Telkom-3.

[oer]

Rabu, 8 Agustus 2012 19:28:30

APJII prihatin kegagalan Telkom-3 dan putusnya kabel matrix

http://www.merdeka.com/uang/apjii-prihatin-kegagalan-telkom-3-dan-putusnya-kabel-matrix.html

Kegagalan satelit Telkom-3 mengorbit ke angkasa mengundang keprihatinan berbagai pihak. Termasuk Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Sebab, hal ini berkaitan dengan infrastruktur teknologi dan telekomunikasi yang memang dibutuhkan di era yang serba canggih seperti saat ini.

“Konsen kita memang bagaimana bisa mewujudkan sarana pendukung teknologi dan telekomunikasi yang berkualitas. Sangat disayangkan dengan kejadian gagal orbitnya Satelit Telkom-3,” ungkap Sekretaris Jenderal APJII Sapto Anggoro kepada merdeka.com, Rabu (8/8) malam.

Dalam pandangannya, kegagalan Telkom-3 meluncur ke angkasa berpotensi menjadi batu sandungan yang menghambat mimpi PT Telekomunikasi Indonesia untuk menambah jaringan pelanggannya di Tanah Air. “Bisa jadi semacam delay atau tertunda,” katanya.

Selain menyoroti gagal orbit satelit Telkom-3, pihaknya juga menyayangkan terputusnya kabel fiber optic Matrix Indonesia ke Singapura yang terputus di wilayah perairan Indonesia. Sapto menjelaskan, pihaknya baru mendapat kepastian kabar tersebut Selasa (7/8) malam. Dampaknya, kata dia, cukup signifikan.

“Sekitar 1,5-2 juta pengguna internet di Indonesia terkena dampaknya. Kecepatan akses jaringan tidak maksimal,” tegasnya. Pihaknya berharap, gangguan pada sistem infrastruktur teknologi bisa segera dibenahi. Pada dasarnya, kata dia, untuk perbaikan dan penyambungan kembali kabel optik tidak membutuhkan waktu yang lama. Hanya saja, untuk proses perizinan yang kemungkinan memerlukan kerja keras.

Pihaknya berharap kerjasama pemerintah untuk mendukung proses perbaikan tersebut. Terutama Dirjen Perhubungan Laut terkait izin kapal asing yang akan memasuki wilayah perairan Indonesia untuk proses perbaikan kabel optik tersebut. “Harapannya, kalau sarana dan prasarana berkualitas, seluruh wilayah Indonesia akan melek internet,” tutupnya.

[oer]

Detik-detik Peluncuran Satelit Telkom-3 yang Hilang

Susetyo Dwi Prihadi – detikinet

Rabu, 08/08/2012 12:15 WIB

http://inet.detik.com/read/2012/08/08/115850/1986097/328/detik-detik-peluncuran-satelit-telkom-3-yang-hilang

Jakarta – Roket milik pemerintah Rusia Proton-M yang membawa satelit Telkom-3 dan Express MD2 menghilang beberapa jam setelah meluncur dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan pada hari 6 Agustus kemarin.

Di YouTube muncul video yang menampilkan detik-detik peluncuran roket Proton-M menuju slot orbit yang kemudian gagal dalam tahapan Briz-M. Video yang di-upload oleh akun SpaceVideNet ini berdurasi 5 menit 54 detik.

Saat detikINET menyambanginya, Rabu (8/8/2012), detik-detik awal ditampilkan roket yang lepas landas. Sampai Proton-M melepaskan roket pendorongnya hingga kedua kali tidak ada masalah apapun yang terjadi.

Bahkan video ini terus memperlihatkan bagaimana perjalanan roket dari Bumi hingga menghilang dari pandangan di kegelapan malam. Kendati terlihat aman-aman saja, baru beberapa jam kemudian diketahui bahwa roket ini mengalami masalah.

Satelit Telkom-3 yang dibangun oleh ISS-Reshetnev berkapasitas setara dengan 42 transponder (setara 49 transponder @36MHz), terdiri dari 24 transponder @36MHz Standart C-band, 8 transponder @54 MHz Ext. C-band dan 4 transponder @36 MHz + 6 transponder @54 MHz Ku-Band.

Cakupan geografis Satelit Telkom 3 mencakup: Standart C-band (Indonesia dan ASEAN), Ext. C-band (Indonesia dan Malaysia) serta Ku-Band (Indonesia).

Kendati satelit Telkom-3 yang gagal mengorbit dan dikabarkan hilang, namun dipastikan tidak akan mengganggu operasional dan layanan Telkom Group secara keseluruhan.

Apalagi satelit seharga Rp 1,8 triliun ini telah diasuransikan secara penuh.

“Anomali ini tidak mengganggu operasional dan layanan Telkom, karena Telkom saat ini mengoperasikan dan menggunakan beberapa satelit,” jelas Head of Corporate Communication and Affair Telkom, Slamet Riyadi.

Saat ini, pihak ISS Reshetnev sedang melakukan investigasi lebih lanjut atas kejadian ini dan akan segera menyampaikan hasilnya kepada Telkom. Melalui koordinasi intensif dengan pihak ISS Reshetnev, Telkom berharap mendapatkan informasi rinci dalam waktu dekat.

Ingin melihat seperti apa video perjalanan roket yang membawa satelit Telkom-3, simak videonya berikut ini:

Satelit Telkom-3 Hilang, Tak Cuma Telkom yang Rugi

Achmad Rouzni Noor II – detikinet

Kamis, 09/08/2012 08:11 WIB

http://inet.detik.com/read/2012/08/09/081138/1986847/328/satelit-telkom-3-hilang-tak-cuma-telkom-yang-rugi

Jakarta – Hilangnya satelit Telkom-3 usai diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan, diyakini tak hanya merugikan Telkom saja. Namun industri telekomunikasi di Indonesia juga ikut terkena imbasnya.

“Jika memang satelit itu hilang, yang rugi bukan hanya Telkom,” sesal Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Semmy Pangerapan, saat dihubungi detikINET di Jakarta.

“Tetapi industri telekomunikasi nasional karena satelit masih menjadi salah satu backbone dan akses last mile andalan untuk area-area remote yang tidak bisa dipenetrasi dengan serat optik,” jelasnya lebih lanjut.

Menurutnya, satelit masih sangat dibutuhkan di Indonesia karena kontur geografis yang sulit ditembus dengan jaringan serat optik. “Di kawasan timur dan pulau-pulau terpencil itu mengandalkan satelit untuk last mile dan backbone,” kata Semmy.

Dijelaskan olehnya, satu satelit dengan kapasitas yang menggunakan teknologi terbaru kapasitasnya mampu mendukung 36 Mbps untuk satu transponder. “Sedangkan Satelit Telkom-3 membawa 42 transponder, dimana ada pancaran KU-band yang bisa mencapai 70 Mbps untuk satu transponder,” katanya.

Pemerintah pun disarankan belajar banyak dari kasus hilangnya satelit dari Telkom dan mulai berani berinvestasi di satelit menggunakan dana Universal Service Obligation (USO) untuk mendukung program tersebut.

“Sebaiknya satelit yang nantinya diinvestasi langsung pemerintah itu untuk akses telekomunikasi seperti internet, bukan penyiaran,” katanya.

Seperti diketahui, peluncuran Satelit Telkom-3 dari Baikonur Cosmodrome, di Kazakhstan, Selasa dinihari (7/8/2012) telah mengalami anomali sehingga tidak mencapai orbit sesuai yang direncanakan.

Telkom sendiri telah mendapat informasi tertulis dari First Deputy General Designer & General Director dari ISS Reshetnev, Rusia, perusahaan kontraktor utama satelit Telkom-3, bahwa telah terjadi anomali pada saat peluncuran Satelit Telkom-3 di tahap pengoperasian roket peluncur Breeze-M sehingga menyebabkan satelit hanya mencapai intermediate orbit.

Saat ini, pihak ISS Reshetnev sedang melakukan investigasi lebih lanjut atas kejadian ini dan akan segera menyampaikan hasilnya kepada Telkom. Melalui koordinasi intensif dengan pihak ISS Reshetnev, Telkom berharap mendapatkan informasi rinci dalam waktu dekat.

( rou / ash )

Satelit Telkom-3 Diproyeksi Jatuh ke Bumi Setelah 16 Tahun

Ardhi Suryadhi – detikinet

Kamis, 09/08/2012 14:54 WIB

http://inet.detik.com/read/2012/08/09/144546/1987295/328/satelit-telkom-3-diproyeksi-jatuh-ke-bumi-setelah-16-tahun

Jakarta – Satelit Telkom-3 yang diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan, pada 6 Agustus lalu masih belum jelas nasibnya. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memperkirakan, jika masih belum dapat dikendalikan, satelit senilai Rp 1,8 triliun itu akan jatuh ke bumi dalam waktu lebih dari 16 tahun.

Satelit Telkom-3 yang sebelumnya diberitakan hilang karena roket pengorbitnya (upper stage) Breeze-M tidak berfungsi sempurna kendati roket pendorongnya Proton-M berfungsi dengan baik.

Lapan pun menduga bahwa roket pengorbit tersebut masih memuat satelit Telkom 3 dan Express-MD2 alias belum dilakukan separasi.

Berdasarkan pengamatan, saat ini benda yang diduga Breeze-M dan dua satelit yang dimuatnya berada di ketinggian 266 hingga 5.013 km dengan kemiringan orbit 51 derajat.

Ilustrasi rencana peluncuran satelit Telkom 3 memakai roket pendorong Proton-M. Kegagalan terjadi di fase ke-5. Rencana separasi satelit dari roket pengorbit di fase ke-7 dan 8. Sumber: http://en.ria.ru.

“Jika benda ini tidak dapat dikendalikan lagi sehingga mengalami peluruhan orbit secara alami maka diperkirakan benda tersebut akan jatuh ke Bumi dalam waktu lebih dari 16 tahun,” tulis penjelasan Lapan di situsnya.

Keterangan: Orbit Object A yang diduga sebagai roket pengorbit satelit Telkom 3 dan Express-MD2 dibandingkan dengan orbit satelit Telkom 2 yang berada di geostasioner. Ilustrasi oleh Celestia.

Seperti diberitakan, satelit Telkom-3 bersama satelit Ekspress-MD2 yang menumpang roket milik pemerintah Rusia Proton-M, dikabarkan oleh situs Nasa Space Flight telah hilang setelah beberapa jam meluncur menuju slot orbitnya karena gagal dalam tahapan Briz-M.

Briz-M merupakan tahapan pelepasan tangki bahan bakar diikuti relokasi instrument pengarahan dari komando pusat dalam rangka menghindari goncangan ketika tangki tambahan propellant dilepas.

Menurut Russian Space Agency Roscosmos, pihaknya belum bisa memastikan jika kedua satelit tidak masuk orbit walau ada masalah dengan salah satu Briz-M.

Sementara media Rusia, RIA Novosti, menilai jika kedua satelit tersebut kemungkinan besar telah hilang. Hal ini berkaca pada pengalaman kegagalan Briz-M sebelumnya. Dimana hal serupa juga pernah terjadi pada satelit Ekspress-AM4, tahun lalu.

Pihak Telkom pun masih harap-harap cemas menanti kepastian kabar soal Satelit Telkom-3 yang gagal mengorbit tersebut.

“Kami telah mendapat informasi tentang kegagalan peluncuran Satelit Telkom-3 yang disebabkan oleh tidak berfungsinya roket Breeze-M dengan sempurna,” ungkap Head Of Corporate Communication and Affair Telkom Slamet Riyadi saat dihubungi detikINET.

“Saat ini kami sedang menunggu konfirmasi resmi dari pihak ISS Reshetnev Rusia. Ini harus clear benar,” pungkasnya.

( ash / fyk )

Satelit Telkom-3 Telah Ditemukan!

Achmad Rouzni Noor II – detikinet

Kamis, 09/08/2012 18:43 WIB

http://inet.detik.com/read/2012/08/09/184358/1987642/328/satelit-telkom-3-telah-ditemukan

Jakarta – Satelit Telkom-3 yang sempat hilang kini telah diketahui keberadaannya. Satelit yang diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan, itu tengah melayang di ketinggian maksimum 5.014 km, masih jauh dari ketinggian orbit 36.000 km.

Namun sayangnya, meski telah diketahui keberadaannya, satelit yang melayang jauh dari orbit itu kemungkinan besar sama sekali tidak akan dapat dipergunakan lagi. Demikian penjelasan yang diterima Telkom dari pihak ISS Reshetnev berdasarkan preliminary calculation, Kamis (9/8/2012).

“Sehubungan dengan hasil preliminary calculation dari pihak ISS Reshetnev maka Telkom juga menetapkan langkah-langkah kontingensi yang terkait dengan Telkom-3,” ujar Head of Corporate Communication and Affair Telkom, Slamet Riyadi.

Sebelum hasil preliminary calculation itu diterima, Telkom telah mengambil langkah-langkah penanganan emergency dan urgency untuk menjamin pelayanan dan operasional telekomunikasi pelanggan. Menurut Slamet, layanan telekomunikasi tidak akan terganggu karena Telkom mengoperasikan dan menggunakan beberapa satelit.

“Selain itu, dari sisi keuangan, kejadian anomali peluncuran Satelit Telkom-3 juga tidak akan memberikan dampak signifikan, karena telah diasuransikan secara penuh,” tegasnya.

Slamet menegaskan, rencana kontingensi merupakan prosedur operasional baku di Telkom, tidak terkecuali untuk transponder satelit. Untuk Satelit Telkom-3 langkah-langkah kontingensi sudah dilakukan sebelum satelit diluncurkan.

“Untuk memenuhi kebutuhan customer yang sudah mendaftar dan mengantisipasi demand kami melakukan penyewaan satelit yang cakupannya kurang lebih sama dengan Satelit Telkom-3,” jelasnya.

“Telkom akan selalu memberikan layanan terbaik kepada pelanggan dan calon pelanggan, di samping itu kami senantiasa menjaga kesinambungan pertumbuhan bisnis ,” tandas Slamet.

Satelit Telkom-3 sebelumnya diberitakan hilang karena roket pengorbitnya (upper stage) Breeze-M tidak berfungsi sempurna kendati roket pendorongnya Proton-M berfungsi dengan baik. Satelit senilai Rp 1,8 triliun ini sempat diperkirakan badan antariksa Lapan, akan jatuh ke bumi dalam waktu lebih dari 16 tahun.

( rou / ash )

Satelit Telkom-3 Hilang, Perdana Menteri Rusia Berang

Susetyo Dwi Prihadi – detikinet

Jumat, 10/08/2012 11:04 WIB

http://inet.detik.com/read/2012/08/10/104516/1988070/328/satelit-telkom-3-hilang-perdana-menteri-rusia-berang

Jakarta – Kegagalan roket Proton-M mencapai orbit saat membawa satelit Telkom-3, membuat Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev berang. Dia bahkan menyebut kejadian ini sebagai sesuatu yang memalukan dan tidak bisa ditolerir.

“Saya tidak mengerti mengapa satelit tersebut hilang, masalah anomali kah, mesin atau lainnya? Jelas itu adalah masalah tradisional yang sering terjadi. Tetapi itu tidak bisa ditolerir sama sekali,” ketusnya saat memimpin rapat, seperti detikINET kutip dari Global Times, Jumat (10/8/2012).

Dia mengatakan, kegagalan roket Proton-Mmilik Rusia ini membawa dampak besar. Sebab ini bisa berimbas pada kepercayaan terhadap ekonomi Rusia dan berpotensi kehilangan miliaran Rubel — mata uang Rusia.

Mendvedev langsung memerintahkan penyelidikan mendalam mengenai masalah tersebut. Dia pun mendesak agar pihak yang bersalah terkait kegagalan proyek ini agar dihukum.

Sebelumnya diberitakan, Proton-M hilang karena roket pengorbitnya (upper stage) Breeze-M tidak berfungsi sempurna kendati roket pendorongnya berfungsi dengan baik. Roket tersebut membawa dua satelit, Telkom-3 yang bernilai Rp 1,8 triliun dan Ekspress-MD2.

Satelit yang diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan, itu sendiri dikabarkan telah ditemukan keberadaannya.

Namun sayangnya, meski telah diketahui lokasinya, satelit yang melayang jauh dari orbit itu kemungkinan besar sama sekali tidak akan dapat dipergunakan lagi.

“Sehubungan dengan hasil preliminary calculation dari pihak ISS Reshetnev maka Telkom juga menetapkan langkah-langkah kontingensi yang terkait dengan Telkom-3,” ujar Head of Corporate Communication and Affair Telkom, Slamet Riyadi.

( ash / ash )

http://www.merdeka.com/teknologi/satelit-telkom-3-segera-diluncurkan.html

Sabtu, 25 Februari 2012 16:12:08

Satelit Telkom-3 segera diluncurkan

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) segera meluncurkan Satelit Telkom-3 guna mempertahankan dominasi bisnis satelit sekaligus meningkatkan kualitas dan kapasitas layanan infrastruktur teknologi informasi, dan telekomunikasi.

“Jika tidak ada halangan, pertengahan tahun 2012 atau sekitar Mei-Juni Satelit Telkom-3 akan diluncurkan,” kata Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah, di Jakarta, Sabtu.

Menurut Rinaldi, investasi yang dibelanjakan perseroan untuk membangun hingga meluncurkan Satelit Telkom-3 tersebut mencapai USD 200 juta.

Satelit Telkom-3 memiliki 42 transponder aktif terdiri atas 24 transponder masing-masing 36MHz Standart C-band, 8 transponder 54 MHz Ext. C-band, 4 transponder masing-masing 36 MHz, dan 6 transponder berkapasitas 54 MHz Ku-Band.

Rinaldi menambahkan, cakupan geografis layanan Satelit Telkom-3 mencakup Indonesia, ASEAN, Indochina, Taiwan, Hongkong, dan Papua Nugini dengan Standard C-Band; Indonesia, Papua Nugini dan Australia Utara dengan Extended C-Band; dan Indonesia dengan Ku-Band.

“Dari 42 transponder sebanyak 40-45 persen atau sekitar 20 transponder akan dikomersialkan, sedangkan sisanya untuk menambah kapasitas seluruh layanan Telkom Group,” tegas Rinaldi.

Menurut catatan, Satelit Telkom-3 ini sudah dua kali mengalami pengunduran jadwal peluncuran.

Awalnya, satelit buatan pabrik ISS-Reshetnev Rusia itu akan diluncurkan pada Agustus 2011, namun salah satu mitra yaitu Thales Aleniaspace belum menyelesaikan pekerjaan perangkat komunikasi (Payload).

Sempat juga dijadwalkan meluncur pada akhir 2011, tetapi kembali diundur menjadi triwulan I 2011 hingga akhirnya ditargetkan mengangkasa pada Mei atau Juni 2012.

[tts]

Tuesday, 3 March 2009

Kerjasama Telkom – Reshetnev untuk Satelit Telkom 3, Telkom bekerjasama dengan perusahaan Rusia untuk pengadaan satelit

http://www.radarmerauke.com/2009/03/kerjasama-telkom-reshetnev-untuk.html

Telkom hari ini menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan Rusia, ISS Reshetnev, untuk pengadaan satelit telkom 3.Kontrak yang ditandatangani keduanya, meliputi pembuatan satelit, jasa peluncuran, penyedian perangkat pengendali satelit, serta pelatihan (training) dan magang (internship).

Pengadaan satelit dilakukan ISS reshetnev dengan menggunakan perangkat komunikasi yang dibuat oleh Thales Alineaspace, dan diluncurkan dengan peluncur proton m-breeze.Satelit telkom 3 memiliki kapasitas 42 transponder aktif yang terdiri dari 24 transponder berkapasitas 36MHz Standar C-Band 8 transponder extension C-Band masing2 54MHz dan 4 transponder Ku-Band masing-masing 36MHz dan 6 transponder Ku-Band masing2 kapasitas 54MHz.

untuk yang standar c-band, diharapkan mencakup skala geografis terbesar yakni indonesia dan asean. Extension c-band untuk indonesia dan malaysia. Ku-band hanya untuk indonesia.“Dari 42 transponder tersebut, 40 hingga 45% di antaranya atau sekitar 20 transponder akan dikomersialkan. sedangkan sisanya, 55% untuk menambah kapasitas seluruh layanan Telkom group,” kata Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah di sela penandatanganan kontrak pengadaan satelit Telkom 3 di Graha Cipta Caraka.

Lebih lanjut Rinaldi mengatakan, telkom yakin bahwa permintaaan akan transponder masih tumbuh. Pemanfaatan transponder di indonesia lebih dari 160 transponder untuk GSM backhaul, data, selanjutnya untuk penyiaran. Sementara, pasokan domestik yang dilakukan oleh Telkom, Indosat, Cakrawala, dan PSN, hanya 101 transponder. Permintaaan saat ini masih tumbuh untuk keperluan penyiaran, 3G, internet triple play, dan quardraple.Sebelumnya Telkom telah mengoperasikan satelit Telkom 2 pada 12 November 2005 yang diluncurkan oleh roket Ariane 5 milik Arianespace di Guyana Perancis. ISS Reshetnev memenangkan tender dan mengalahkan Orbitalscince, Loral, serta Tales Alinea.

“Dalam tender, secara teknologi, satelit yang ditawarkan ISS setingkat dengan kualifikasi satelit yang dimiliki telkom saat ini, hanya saja telkom memilihnya karena nilai harganya lebih murah dibandingkan satelit yang dipakai telkom sebelumnya. Ini jelas membuat Telkom lebih efisien dari segi biaya. Satelit ini juga melengkapi infrastruktur Telkom di samping kabel fiber optik,” kata Sofyan Djalil. “Pengadaan satelit Telkom 3 ini membutuhkan waktu 20 bulan, yang diharapkan rampung dan diluncurkan pada Agustus 2011. Saya harap tidak terlambat. Meskipun ini adalah pertamakali kami bekerjasama dengan Reshetnev Rusia untuk pengadaan satelit, Reshetnev telah memenuhi kriteria yang kami butuhkan. Terutama kapabilitasnya dalam menunjang penyelenggaraan telekomunikasi di indonesia,” ucap Rinaldi.

“Saya yakin kontrak kerjasama ini akan membangun hubungan bilateral yang baik antara Rusia dan Indonesia untuk ke depannya,” kata Victor Kosenko, First Deputy of General Designer and General Director ISS Reshetnev.

Proyek Palapa Ring Tetap Dilanjutkan

Proyek yang menghubungkan seluruh penjuru nusantara menggunakan saluran fiber optik sempat terhambat. Pasalnya, investasi proyek besar bertajuk Palapa Ring itu terkena imbas depresiasi rupiah. Dari awalnya di kisaran Rp 9 ribu rupiah per dolar menjadi Rp 11 ribu per dolar AS. “Akibat depresiasi rupiah, terjadi pergeseran jumlah total investasi Palapa Ring dalam dolar yang akan dikeluarkan untuk infrastruktur proyek itu,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh, pada VIVAnews, 16 Februari 2009. “Dari 180 juta dolar AS, kini tinggal 150 juta dolar AS, atau terjadi penyusutan sebesar 30 juta dolar AS,” ucapnya.

Menurut Nuh, sekarang ini pemerintah tengah mencari solusi untuk menutup defisit 30 juta dolar tersebut. “Kemungkinan besar yang bisa kita lakukan adalah pembebasan insentif pajak impor bea masuk untuk peralatan infrastruktur palapa ring,” kata Nuh. Terkait dengan pembebasan pajak, pemerintah, dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika sebagai fasilitator sudah mengajukan surat pada Departemen Keuangan sejak Januari 2009. Meski begitu, sampai saat ini belum ada kelanjutannya.
“Kemungkinan besar prosesnya akan cepat, karena pihak Departemen Keuangan berjanji akan memprioritaskan pembebasan pajak untuk sektor infrastruktur, termasuk infrastruktur telekomunikasi,” kata Nuh. Sebagai alternatif, selain pembebasan pajak, pemerintah juga akan menjajaki kerjasama dengan negara-negara Asia lain seperti China, Jepang, dan Korea. Alasannya, karena mereka mempunyai skenario besar untuk menghubungkan seluruh negara-negara di asia melalui infrastruktur fiber optik.
“Bagaimana itu bisa tercapai kalau di antara negara-negara ASEAN sendiri belum terhubung?” Nuh berkata. “Karena itu saya yakin mereka akan membantu merealisasikan proyek Palapa Ring di Indonesia.” Menkominfo memastikan, tahun 2009 ini proyek Palapa Ring tetap akan berjalan. Hanya mungkin ada modifikasi-modifikasi penting. “Salah satu contoh misalnya adalah beberapa daerah tidak memakai fiber optik, tetapi hanya menggunakan koneksi satelit,” kata Nuh.

Sumber : VIVA News

TEKNOLOGI

5 Bulan Lagi Satelit Telkom Masuk Atmosfer?

Saat ini ada empat obyek dengan orbit yang mirip peluncuran Proton-M.

Kamis, 9 Agustus 2012, 12:29

http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/343050-5-bulan–sisa-proton-m-kembali-ke-atmosfer-

VIVAnews – Roket milik Rusia Proton-M gagal membawa dua satelit, termasuk milik Telkom asal Indonesia, mencapai orbit. Bagian dari roket ini, Briz-M booster, diperkirakan tetap terbang di luar angkasa selama lima bulan.

Seorang sumber di industri roket Rusia mengatakan kepada Kantor Berita Rusia, RIA Novosti, booster tersebut akan mendekati dan masuk ke lapisan atmosfer, setelah lima bulan ‘mengambang’ di angkasa raya.

Senin lalu, Rusia meluncurkan roket Proton-M dengan peluncur Briz-M. Roket ini membawa satelit Telkom-3 and the Express MD2 dari Baikonur Space Center, Kazakhstan. Tapi, peluncuran ini gagal menyusul malfungsi mesin.

Menurut Strategic Command Amerika Serikat, saat ini ada empat obyek dengan orbit yang mirip peluncuran Proton-M. Sumber RIA Novosti menduga keempat obyek itu adalah booster Briz-M, sebuah tangki tambahan, dan dua satelit yang dibawa Proton-M.

“Mereka terpisah, tapi sistem kontrol berfungsi,” kata sumber tersebut sambil menambahkan bahwa sistem kontrol satelit sudah diaktifkan. “Mereka seharusnya merespons komando.”

Akibat kegagalan ini, Badan Antariksa Rusia Roscosmos membekukan sementara waktu peluncuran Proton-M dengan Briz-M booster. Kedua satelit yang gagal dibawa tersebut sedianya akan melayani TV broadcast di Indonesia.

Satelit Telkom-3 dibangun perusahaan roket Rusia, Reshetnev, dengan peralatan telekomunikasi dari Thales Alenia Space. Sementara Express MD2 merupakan satelit kecil yang didesain oleh Khrunichev State Research and Production Space Center untuk Russian Satellite Communications Company (RSCC). Kedua satelit ini masuk asuransi Russian Ingosstrakh and Alfa Strakhovanie. (umi)

SATELIT TELKOM

Telkom sewa satelit antisipasi raibnya Telkom-3

Oleh Merlinda Riska – Jumat, 10 Agustus 2012 | 06:09 WIB

http://industri.kontan.co.id/news/telkom-sewa-satelit-antisipasi-raibnya-telkom-3/2012/08/10

JAKARTA. Nasib raibnya Satelit Telkom-3 mulai terkuak. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mulai mendapat gambaran jelas soal keberadaan satelit tersebut.

Menurut Head of Corporate Communication and Affair Telkom, Slamet Riyadi, Telkom sudah mendapat penjelasan dari hasil investigasi ISS Reshetnev, perusahaan asal Rusia yang didapuk sebagai pelaksana peluncuran satelit naas tersebut.

Berdasarkan hasil perhitungan sementara (preliminary calculation) yang Telkom terima dari Reshetnev per tanggal 9 Agustus, Satelit Telkom-3 saat itu sedang melayang-layang di ketinggian maksimum 5.014 km. Sayang, ketinggian orbit tersebut masih jauh dari yang diharapkan Reshetnev, yakni berada di ketinggian orbit 36.000 km. “Artinya adalah satelit tersebut kemungkinan besar tidak bisa dipergunakan sama sekali,” kata Slamet dalam keterangan rilisnya.

Melihat hasil negatif ini, Telkom langsung mengambil langkah kontingensi. Maklum, dari sekitar 42 transponder yang ada di satelit tersebut, sekitar 20 transponder rencananya bakal Telkom pergunakan untuk menambah kapasitas Telkom secara group.

Langkahnya adalah memaksimalkan dua satelit Telkom yang sudah beroperasi. Serta menyewa beberapa satelit. “Kalau masih kurang, kami akan usahakan untuk menambah jumlah satelit sewaan,” katanya lagi.

Telkom memang harus bergerak cepat. Pasalnya, sudah ada beberapa pelanggan yang ingin memanfaatkan Satelit Telkom-3. Nah, supaya si pelanggan tidak kecewa, Telkom pun terpaksa menyewa satelit sewaan. Langkah ini untuk menjamin kesinambungan bisnis PT Telkom.

Telkom mengklaim hilangnya Satelit Telkom-3 ini tidak bakal mengganggu kinerja bisnis mereka. Meskipun nilai satelit ini sebesar US$ 200 juta atau sekitar Rp 1,8 triliun lebih. Pasalnya, satelit ini sudah diasuransikan secara penuh ke PT Asuransi Jasa Indonedia (Jasindo).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s