Membentuk Komunitas pelanggan, Langkah Baru Operator Seluler

Posted: Desember 16, 2011 in Telekomunikasi Indonesia Di Kisaran Tahun 2000-an

Oleh : H. Gempar Ikka Wijaya

ANALISA BERITA (March 14th, 2003)
Membentuk Komunitas pelanggan, Langkah Baru Operator Seluler

CUPLIKAN BERITA
Kumpulkan Pelanggan Prabayar, Telkomsel Lansir Simpatizone (www.Detik.com, 14 Maret 2003

DESKRIPSI SINGKAT

Untuk menunjukkan kepedulian kepada pelanggan prabayar yang mencapai 5,4 juta, Telkomsel membentuk komunitas khusus, Simpatizone. Pengguna Simpati dapat bergabung tanpa dipungut biaya untuk mendapatkan fasilitas dan layanan istimewa yang diberikan Telkomsel.

猫ayanan ini diciptakan berdasarkan permintaan dan masukkan dari banyak pelanggan Simpati,・ungkap Erik Meijer, General Manager Marketing Telkomsel.
Menurut Erik, karena untuk segmen prabayar secara prinsipnya tidak ada proses registrasi, maka Telkomsel tidak mengetahui data diri pelanggan Simpati tersebut sehingga tidak dapat memberikan layanan-layanan khusus.

Simpatizone akan memberi kemudahan anggota dalam iuran tahunan, pendaftaran keanggotaan, mendapatkan Buletin yang akan dikirimkan ke alamat pelanggan, download logo, picture message, ringtone secara gratis.
Selain itu, jika nomor hilang, anggota Simpatizone akan mendapatkan kembali nomor yang sama dengan biaya 50 persen untuk penggantian kartu dan aktivasi langsung fasilitas Simpati Internasional Roaming.
DISKUSI ANALISA

Jumlah pelanggan yang terus membengkak membuat Operator telekomunikasi mampu melihat satu peluang bisnis baru yang bisa mendongkrak bisnis inti mereka. Membentuk komunitas pelanggan adalah salah satu alternatif yang mulai dilirik oleh para operator telekomunikasi.

Selain Telkomsel, operator seluler seperti Satelindo dan Pro XL juga telah melakukan langkah yang sama sebelumnya. Kondisi ini sangat menarik dicermati, karena hal ini akan membawa satu bentuk bisnis turunan lain yang akan muncul dan bahkan mungkin bisa menjadi besar.

Operator yang baru beroperasi seperti IM3 juga melakukan langkah yang sama untuk menguatkan basis pelanggan yang mereka miliki. Layanan khusus yang diberikan antar kelompok pelanggan ini merupakan cara baru survive dan sekaligus berkembang di tengah kompetisi yang sangat keras di pasar seluler Indonesia.

Pemberian potongan harga khusus yang diberikan untuk komunikasi antar pelanggan dalam operator yang sama misalkan dapat mendongkrak level kesetiaan pelanggan terhadap operatornya. Langkah telkomsel dengan membentuk kelompok pelanggan tertentu dengan potongan harga yang sangat besar adalah contoh yang dapat dijadikan model oleh operator telekomunikasi lain. Layanan closed user group seperti ini selain meringankan closed user group juga akan membuat para pelanggan tetap setia memakai operator telekomunikasi ini.

Meski demikian layanan seperti ini tidak bisa memberikan jaminan penetrasi pelanggan baru yang lebih cepat. Beberapa operator non seluler GSM misalnya pernah melakukan langkah pemberian layanan yang sama dengan tujuan para pelanggan baru untuk mendongkrak rendahnya jumlah pengguna layanan mereka. Akan tetapi langkah mereka gagal.

Langkah layanan seperti ini hanya efektif ditujukan untuk pelanggan yang telah menggunakan layanan dalam jangka waktu tertentu. Dan sebaiknya operator telekomunikasi mampu melihat layanan ini sebagai sesuatu yang berbau lebih wajib. Karena hampir semua operator telah memberikan layanan serupa ini.

Gaya layanan seperti ini juga pernah sukses diterapkan di operator telepon tetap (PSTN) di Eropa dan Amerika. Layanan Sentrex untuk corporate adalah salah satu contoh layanan close user group yang mampu memangkas biaya telekomunikasi antar mereka. Layanan PABX juga merupakan salah satu layanan yang menjadi andalan perusahaan-perusahaan besar dunia.
REKOMENDASI

Regulator

Regulator perlu melihat gejala layanan ini dan melakukan proses pengamatan yang lebih teliti, untuk menghindari adanya proses diskriminasi yang berujung pada pelanggaran undang-undang pelayanan konsumen. Pembentukan closed user group atau kelompok kecil seperti ini membuat proses pelayanan secara individu memiliki peluang diturunkan. Meski peluang untuk menaikkan layanan secara kelompok juga sangat dimungkinkan.

Interoperability juga berpeluang menjadi masalah lain yang akan muncul jika satu atau dua kelompok user group yang dimiliki oleh operator menjadi sangat dominan.

Regulator sebaiknya juga melihat adanya peluang Layanan model seperti ini menyeret para operator dalam melanggar undang-undang anti monopoli.

Operator

Sesegera mungkin melakukan langkah layanan yang sama karena model layanan ini berpeluang menyedot pelanggan yang mereka miliki.
Analis [ Gempar Ikka Wijaya ] http://www.systemicgroup.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s