Tugas Rumit Independen Regulatory Body Indonesia

Posted: Desember 9, 2011 in Telekomunikasi Indonesia Di Kisaran Tahun 2000-an

Oleh : H. Gempar Ikka Wijaya

ANALISA BERITA (April 1st, 2003)
Tugas Rumit Independen Regulatory Body Indonesia

CUPLIKAN BERITA
1. Anggota Komisi IV DPR:Mundur Akan Untungkan Djamhari (detik.com, 31 Maret 2003)
2. Agum Desak Dirjen Postel (detik.com, 31 Maret 2003)
3. Roy Suryo: Tunggu Realisasinya Saja (detik.com, 31 Maret 2003)
4. Asal Jujur, Jelas, dan Simpatik, Silahkan Naikkan Tarif Telepon (detik.com, 31 Maret 2003)
5. Didesak Mundur dari Komisaris Telkom, Dirjen Postel Siap (detik.com, 31 Maret 2003)
6. Agum Minta Dirjen Postel Mundur Sebagai Komisaris PT Telkom (Republika On Line, http://www.republika.co.id, 31 Maret 2003)

DESKRIPSI SINGKAT

Permintaan Agum Gumelar agar Dirjen Postel Djamhari Sirat mundur dari posisi Komisaris Telkom didukung oleh anggota Komisi IV DPR, Ahmad Muqowam. Mundur justru demi kebaikan Djamhari sendiri, agar tidak terkena dosa-dosanya.

Menurutnya, anggota FPPP itu, sudah sejak lama posisi ganda Djamhari itu menjadi masalah. Ahmad pernah mengatakan pada Djamhari, “Apa tidak conflict of interest? Bapak sebagai regulator sekaligus operator?”

Mundurnya Djamhari dari Komisaris Telkom berkaitan erat dengan akan dibentuknya IRB (Badan Regulasi Independen). Pembentukan IRB ini adalah upaya meluruskan kembali arah regulasi telekomunikasi.

“Sudah tiba saatnya amanah Undang Undang Telekomunikasi diwujudkan dengan cara memberikan atau melepaskan fungsi pengaturan, pengawasan dan pengendalian kepada Badan Regulasi Independen,” sebut Hinca dalam makalahnya.

Posisi IRB ini, menurut Ahmad, idealnya adalah di luar pemerintah. “Seperti KPU atau KPPI,” kata Ahmad. Ia juga menuturkan contoh kualifikasi anggota IRB yang ideal.

“Orang yang tidak bermain dalam skala operator, memiliki cukup integritas dan wawasan tentang teknologi informasi dan telekomunikasi, bisa melakukan benchmark (perbandingan teknis) bagaimana perkembangan teknologi di luar negeri dan dia merupakan wakil dari masyarakat,” tutur Ahmad.
Ibaratnya permainan sepak bola, terbentuknya IRB akan menjelaskan posisi dan peran lembaga-lembaga yang ada. Postel akan berperan layaknya manajer dan pelatih, operator jaringan dan jasa telekomunikasi sebagai pemain dan IRB akan menjadi wasit. Bukankah tidak ada permainan yang fair tanpa wasit?

DISKUSI ANALISA

Mendudukkan masalah pada porsi yang tepat selalu menjadi masalah yang paling utama dalam banyak bidang di Indonesia. Termasuk masalah pembahasan mengenai perlu munculnya regulator independen dalam telekomunikasi.

Undang-undang telekomunikasi memang mengamanahkan adanya badan regulator seperti ini, dan mau tidak mau Indonesia juga harus mengikuti peta yang telah dianjurkan oleh Undang-undang telekomunikasi 36/1999 ini.

Di beberapa negara maju badan regulator independen telekomunikasi yang disusun adalah merupakan kumpulan dari professional, praktisi, dan juga termasuk kalangan akademisi yang memiliki latar belakang baik, dan integritas cukup tinggi. Pengelolaan telekomunikasi dikelola oleh badan yang mampu mengatur seluruh aspek dalam telekomunikasi, mulai dari aspek bisnis, sampai aspek teknis, dan juga perencanaan teknologi masa depan.

Badan independen yang dibentuk di luar negeri adalah merupakan sebuah badan yang tumbuh pada professionalisme sejati yang didukung oleh kemampuan teknis yang sangat tinggi dan wawasan akademis yang cukup bagus. Badan seperti ini muncul dan dibentuk oleh masyarakat yang memang mengerti bahwa telekomunikasi harus diberdayakan untuk kepentingan kemanusiaan mereka.

Kasus yang terjadi di Indonesia adalah kasus unik yang harus diikuti dengan sangat berhati-hati. Membentuk sebuah badan regulasi independen di Indonesia bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Sekedar mengalihkan tanggung jawab pengelolaan telekomunikasi dari Dirjen Postel ke sebuah Badan regulator independen memang hal yang mudah, akan tetapi apakah setelah BRI memegang peranan kondisi telekomunikasi di Indonesia akan bisa berjalan dengan normal.

Ini adalah sebuah pertanyaan yang rumit. Jauh lebih rumit dari pembuatan BRI untuk memenuhi tuntutan kenaikan tarif telepon yang diinginkan oleh PT Telkom. Sebuah BRI yang akan dibuat harus menguasai semua standar telekomunikasi yang saat ini digunakan oleh dunia. Tidak mudah membuat badan regulator yang mampu melaksanakan fungsi seperti ini. Karena selain menentukan stnadar teknologi maka BRI harus mampu menguji teknologi yang ada akan diimplementasi, mampu memproduksi standar dan bahkan menganalisis standar yang akan dikembangkan. BRI tidak hanya bergerak pada permasalahan pengaturan bisnis telekomunikasi saja.

Selama ini belum ada satupun lembaga di Indonesia selain Dirjen Postel yang mampu mengelola kondisi kompleks seperti ini. Dirjen Postel selama ini bermain di domain bisnis, sementara hampir sebagian besar standar teknis dikelola dengan sangat baik oleh Telkom incumbent terbesar telekomunikasi di Indonesia. Wajar jika pengamat menganggap tugas Dirjen Postel adalah ringan karena aspek regulasi bisnis yang selama ini tampak sangat menonjol dimainkan oleh Dirjen Postel. Sementara aspek teknis sama sekali tidak pernah diperhitungkan dengan sangat teliti.

Sebagai sebuah gambaran, sistem telekomunikasi yang ada di Indonesia adalah salah satu sistem yang paling kompleks yang dimiliki oleh sebuah negara berkembang di dunia. Tidak pernah ada sebuah lokasi negara yang mampu melakukan proses interkoneksi antar standar telekomunikasi seperti yang berhasil dilakukan di Indonesia dalam hal ini sebagian besar dilakukan oleh PT Telkom. Sistem berbasis teknologi Jepang, Eropa, Amerika, China, mampu dengan sangat baik beroperasi di Indonesia. Sebagai gambaran di Amerika yang IRB-nya dikelola oleh FCC hanya memiliki satu buah sistem yang dominan beroperasi di seluruh Amerika. Negara-negara Eropa juga terpecah-pecah dalam banyak standar yang berbeda-beda. Tidak pernah ada satu negara Eropa-pun yang mampu menyatukan semua sistem telekomunikasi seperti yang telah berhasil dilakukan di Indonesia. Demikian juga Jepang hanya bisa berperasi pada sistem tunggal yang telah ditentukan menjadi sistem dominan oleh IRB yang beroperasi di negara tersebut.

Selain berhadapan dengan kondisi kompleksnya standar yang ada di Indonesia. Calon IRB yang akan dimunculkan harus beradapan dengan usia level teknologi yang sangat kompleks. Perbedaan usia teknologi yang ada di Indonesia sangat mencolok. Dan selama ini hal ini berhasil dikelola dengan sangat bagik oleh badan regulatoryang notabene tanggung jawabnya dipegang oleh Dirjen Postel dan dalam beberapa hal dilimpahkan wewenangnya scara informal pada operator incumbent.

REKOMENDASI

Masyarakat profesional telekomunikasi di Indonesia sebaiknya melakukan proses persiapan yang matang dalam membentuk sebuah IRB yang akan menggantikan fungsi Dirjen Postel. Kompleksnya permasalahan telekomunikasi di Indonesia tidak akan mampu diatasi oleh sebuah IRB yang belum berpengalaman mengelola standar telekomunikasi yang kompleks. Kegagalan mengelola standar yang kompleks akan berakibat fatal bagi dunia telekomunikasi dan juga implementasi teknologi informasi di Indonesia.

Direkomendasikan untuk mengikut sertakan lingkungan professional teknis sebagai kelompok pendukung IRB, selain para pelaku bisnis telekomunikasi. Direkomenasikan juga untuk tetap menggunakan rujukan kerja teknis yang selama ini telah dipraktekkan oleh Dirjen Postel dan juga operator incumbent yang ada di Indonesia. Bahkan akan lebih baik jika Dirjen Postel dan juga Telkom masih diikut sertakan mengelola di dalam IRB sampai jangka waktu tertentu, untuk menjadi bahan rujukan kerja IRB yang lebih baik. Jangka waktu transisi antara 4 sampai 8 tahun adalah jangka waktu transisi yang direkomendasikan diberikan kepada kedua aktor penting telekomunikasi Indonesia ini.

Analis [ Gempar Ikka Wijaya ] http://www.systemicgroup.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s