Ketika Regulator Gagal Berfungsi Dengan Baik

Posted: Desember 9, 2011 in Telekomunikasi Indonesia Di Kisaran Tahun 2000-an

Oleh : H. Gempar Ikka Wijaya 

ANALISA BERITA (March 21st, 2003)
Ketika Regulator Gagal Berfungsi Dengan Baik

CUPLIKAN BERITA
1. ASSI Minta Berita Soal 2,4 GHz Dicabut(www.detik.com, 21 Maret 2003)
2. Indovision Tegur Pengguna 2,4 GHz (www.detik.com, 11 Maret 2002)
3. Teguran Indovision, Tidak Pada Tempatnya! (www.detik.com, 11 Maret 2002)
4. IndoWLI: Jangan Matikan Telematika Indonesia (www.detik.com, 12 Maret 2002)
5. Indovision Tidak Berniat Menegur (www.detik.com, 12 Maret 2002)

DESKRIPSI SINGKAT

PT Media Citra Indostar (MCI) sudah memberikan klarifikasi tentang suratnya yang ditujukan kepada beberapa ISP yang mengundang tanggapan banyak pihak. Intinya, mereka menilai surat PT MCI itu tidak pada tempatnya.

Sebelumnya, PT. Mediacitra Indostar (MCI) selaku pemegang brand 的ndovision・ telah menerbitkan surat teguran terhadap PT. Global Pratamasis Netsindo (GPN) agar tidak menggunakan perangkat yang menggunakan frekuensi Satelit tersebut.

Tanggapan itu antara lain datang dari Sekjen Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Heru Nugroho, Ketua Dewan Pengurus Wireless LAN-Internet Indonesia (IndoWLI) Wisnu Wardhana, dan Humas Ditjen Postel Gatot S. Dewabroto.

Atas tanggapan banyak pihak itu, Rabu (12/3/2003) lalu, PT MCI memberikan klarifikasi yang intinya, MCI mengaku tidak berniat menegur ISP lain yang beroperasi di frekwensi 2520-2670 Mhz.

Tapi, tiba-tiba saja, Kamis (20/3/2003) sore, detikcom menerima surat dari ASSI (Asosiasi Satelit Indonesia) yang diteken oleh Executive Manager Urusan Regulasi Eddy Setiawan. Isinya, protes atas pemberitaan detikcom tentang surat teguran MCI. Lebih dari itu, ASSI juga minta pemberitaan soal itu di detikcom dicabut.

DISKUSI ANALISA

Mengambil peran yang tepat bagi masing-masing pemain telekomunikasi dan IT di Indonesia memang mengundang dilema. Akan tetapi dalam kasus spesifik 菟erebutan・frekuensi seperti di atas Indonesia bukan satu-satunya negara yang berpotensi mengalami kericuhan ketika berhadapan dengan masalah ini. Kondisi tidak mengenakkan ini juga terjadi hampir di seluruh dunia. Terutama setelah teknologi dengan basis utama pemakaian IT mulai mengambil peran menggeser teknologi berbasis telekomunikasi konvensional.

Di negara maju di Eropa dan Amerika dengan struktur masyarakat yang sangat terbuka dengan inovasi baru setiap saat, proses penggeseran frekuesi oleh teknologi yang baru menjadi masalah yang mungkin dipecahkan dengan pendekatan yang lebih terbuka. Lingkungan akademisi, para user pemakai, operator, dan juga ilmuan praktisi memiliki kedudukan yang dihormati di lingkungan asosiasi professional. Pengatur utama komunikasi antar mereka adalah adanya sebuah aturan yang dijunjung tinggi bersama-sama oleh setiap anggota.

Posisi pemerintah sebagai regulator utama telah lama ditinggalkan, dan sebuah badan regulator independen yang dikelola oleh kalangan professional menggantikan peran pemerintah. Sehingga setiap terjadi kericuhan dalam bidang teknologi maka pemerintah hanya akan menjadi penengah akhir yang akan tampil belakangan setelah semua berhasil dipecahkan oleh lingkungan profesional.

Kondisi di Indonesia sangat berbeda jauh dengan kondisi terbuka yang ada di negara-negara asal teknologi tinggi yang dioperasikan di Indonesia. Semua bentuk regulasi dipegang oleh pemerintah, sementara dukungan kelompok professional dan masyarakat sangat lemah. Satu lagi kekuatan yang ikut menentukan gerak aplikasi teknologi adalah kentalnya kepentingan bisnis di belakang hampir semua kebijakan.

Komunikasi tentang pemakaian sebuah slot frekuensi tertentu adalah masalah teknis kecil yang sangat sederhana. Akan tetapi di Indonesia bisa berpotensial memicu masalah lain. Padahal dari sisi teknis hal ini adalah tak lebih dari kegiatan rutin yang dijalankan oleh level engineer di tiap perusahaan pemakai teknologi tinggi.

Dalam kondisi sehari-hari masalah koordinasi frekuensi seperti ini sebaiknya tidak kemudian harus muncul menjadi sebuah sensasi media massa. Ketidakmampuan mendudukkan masalah dalam porsi yang proporsional membuat masalah menjadi berlarut.

Di sisi lain kemampuan memahami dialektika media massa membuat asosiasi professional yang merasa dilangkahi membuat tuntutan yang juga kurang proporsional bagi media massa. Media massa juga memiliki hak bebas untuk mengungkapkan masalah teknis sesederhana apapun tanpa kemudian perlu mencabut berita yang telah diangkat.

REKOMENDASI

Operator
Para operator pemakai frekuensi sebaiknya tidak mudah emosional dalam menanggapi komunikasi teknis yang menyangkut kegiatan teknis antar mereka. Budaya untuk berkomunikasi antar enggineer dalam bidang teknis sebaiknya lebih dikembangkan untuk memudahkan pemakaian ferkuensi secara bersama

Asosiasi Professional
Asosiasi professional sebaiknya juga tidak terlalu mudah mengomentari hal teknis kecil yang kurang berguna bagi pengembangan professional. Asosiasi professional sebaiknya memberikan jalan keluar dan payung dalam kerangka penyelesaian masalah, dari pada memperuncing masalah yang berujung pada masalah teknis kecil rutin. Sebaiknya dibudayakan melakukan komunikasi intensif antar asosiasi professional dan kemudian dibuat sebuah standar etika bersama komunikasi antar asosiasi professional dan juga antar anggota professional. Standar etika yang dibentuk bisa menjadi sebuah budaya yang bisa menjadi cikal bakal regulator independen informal antar asosiasi professional. Etika komunikasi juga sebaiknya dikembangkan kepada komunitas diluar komunitas professional telematika, terhadap komunitas press misalnya, standar etika apa dan bagaimana yang harus dikembangkan, agar tidak terjadi proses benturan terhadap fungsi yang sedang dilakukan oleh komunitas di luar komunitas profesional IT.

Regulator

Pemerintah juga sebaiknya menjadi penengah yang aktif dalam menangani masalah teknis seperti ini. Kepasifan regulator dalam proses-proses teknis serta tidak adanya etika yang terbangun ketika ada proses yang berpotensi melanggar batas teknis tertentu membuat inisiatif mandiri muncul tidak pada tempatnya. Fungsi regulator bukan hanya ada ketika proses pembuatan ketentuan regulasi saja akan tetapi juga pada proses penegakan regulasi dan pemecahan masalah yang muncul dalam kasus seperti ini. Kericuhan kecil yang muncul seperti ini adalah bukti kecil tidak berfungsi dengan efektifnya fungsi regulator yang saat ini dipegang oleh pemerintah. Fungsi regulasi justru dengan sangat aktif dilakukan oleh komunitas media massa.

Analis [ Gempar Ikka Wijaya ] http://www.systemicgroup.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s