APWI dan Telkom perlu duduk bersama untuk mengatasi kelesuan bisnis wartel di perkotaan

Posted: Desember 9, 2011 in Telekomunikasi Indonesia Di Kisaran Tahun 2000-an

Oleh : H. Gempar Ikka Wijaya 

ANALISA BERITA (March 28th, 2003)
APWI dan Telkom perlu duduk bersama untuk mengatasi kelesuan bisnis wartel di perkotaan

CUPLIKAN BERITA
践entikan penerbitan izin wartel di kota・Bisnis Indonesia, 28 Maret 2003)

DESKRIPSI SINGKAT

Asosiasi Pengusaha Wartel Indonesia (APWI) mendesak PT Telkom menghentikan sementara penerbitan izin usaha wartel di wilayah perkotaan karena tidak kondusif lagi terhadap iklim usaha.

Srijanto Tjokrosudarmo, ketua umum APWI, mengatakan pengelola wartel di wilayah perkotaan banyak yang terancam gulung tikar, karena jumlahnya sudah terlalu banyak. Padahal trafik percakapan via wartel baik lokal, sambungan langsung jarak jauh (SLJJ), maupun sambungan langsung internasional (SLI) cenderung stagnan.

徹leh karena itu, kami mendesak Telkom untuk sementara tidak memberikan izin baru untuk wartel terutama di wilayah-wilayah yang sudah padat. Kami juga meminta pemerintah ikut bersama-sama menata kembali usaha wartel ini agar dari sisi pendapatan bisa lebih baik,・ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Srijanto mengungkapkan selama ini sebetulnya sudah banyak pengusaha wartel yang gulung tikar tapi tidak terlalu kelihatan karena PT Telkom terus memberikan izin baru, sehingga iklim usaha tetap tidak kondusif.

Menurut dia, seharusnya sebelum menerbitkan izin usaha PT Telkom sebaiknya melakukan studi kelayakan terlebih dahulu yang benar-benar dapat menguntungkan pengusaha wartel dan operator.

展artel bisa hidup kalau dibenahi atau dibina. Saya melihat, saat ini PT Telkom lebih baik mendorong usaha wartel di daerah. Daerah sebetulnya lebih profitable dibanding perkotaan yang mulai terkikis teknologi seluler,・papar Srijanto.

Dia memaparkan PT Telkom tidak perlu menunggu pembangunan jaringan baru di daerah karena bisa menggunakan teknologi satelit yang sudah ada dan dari segi harga pun relatif murah.

DISKUSI ANALISA

Permintaan APWI yang mendesak agar Telkom menghentikan untuk sementara penerbitan izin wartel di wilayah perkotaan tampaknya bisa dimengerti. Mengapa, karena di wilayah perkotaan pada umumnya sudah banyak berdiri wartel-wartel dan bahkan tidak jarang antara satu wartel dengan wartel yang lainnya memiliki jarak yang berdekatan sehingga ditinjau dari sisi iklim usaha suasananya menjadi tidak kondusif lagi atau dengan kata lain di wilayah perkotaan bisnis wartel sudah mengalami kejenuhan sehingga pertumbuhannya tidak dimungkinkan lagi. Pendirian sebuah wartel baru di wilayah perkotaan yang cenderung sudah padat persebaran wartelnya akan tidak memiliki nilai ekonomis yang signifikan. Bahkan dengan terjadinya stagnasi dalam trafik percakapan lokal, SLJJ maupun SLI mengakibatkan beberapa wartel yang sudah berdiri mengalami gulung tikar karena tidak mendapatkan konsumen pemakai jasa wartel dalam jumlah yang memadai.

Sebenarnya usaha wartel dapat dikatakan sebagai sarana pemberdayaan perekonomian warga yang berbentuk kerja sama bagi hasil antara Telkom dengan masyarakat, dengan adanya beberapa wartel yang gulung tikar dalam suatu wilayah tertentu maka harus ditinjau kembali efektifitas usaha wartel di lokasi tersebut terutama oleh Telkom selaku pemberi ijin usaha wartel. Kejenuhan usaha wartel di suatu lokasi yang berakibat pada mandegnya operasional satu-dua wartel amatlah disayangkan karena selain membuang biaya investasi yang telah ditanam juga menghilangkan sebuah kesempatan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Sangatlah tepat apabila Telkom saat ini menghentikan sementara pemberian ijin baru untuk usaha wartel di wilayah perkotaan sambil mengevaluasi dan menata ulang sampai sejauh mana suatu lokasi masih layak atau feasible untuk usaha wartel sehingga pemberian ijin baru dapat diberikan. Disamping itu Telkom bisa mendorong pengusaha wartel yang telah mapan maupun pemain baru untuk mengembangkan usaha wartel di daerah-daerah yang nota bene masih sangat memerlukan layanan telekomunikasi. Untuk daerah-daerah yang belum terjangkau oleh jaringan Telkom dapat dipertimbangkan kerja sama dengan operator telekomunikasi yang berbasiskan jasa satelit sehingga potensi yang masih terbuka luas tersebut dapat membawa manfaat secara maksimal bagi banyak pihak yaitu, masyarakat, pengusaha dan operator.

Hampir 600 ribu wartel saat ini telah berdiri di seluruh Indonesia. Sebagian besar wartel ini memang mendapatkan ijin layanan dari telkom. Walaupun saat ini mulai terdapat juga lauyanan wartel dari operator lain seperri warung seluler dari Mobise, Metrosel, dan operator AMPS lainnya. Warung saelit dari PSN, dan juga layanan wartel dari operator fixed wireless lain seperti Ratelindo di Jakarta. Belum lagi adanya potensi munculnya layanan wartel dari operator incumbent lain seperri Indosatyang mau tidak mau akan memukul asosiasi wartel Telkom ini, terutama jiak Indosat bersedia turun memberikan layanan Wartel.

Operator mobile seluler berbasis GSM, kecuali operator GSM satelit PSN, saat ini masih belum membidik potensi pasar ini. Karena pasar ritel yang mereka garap masih sangat tinggi. Bahkan saat ini cenderung mendesak layanan wartel konvensional yang diberikan oleh Telkom.

Hampir semua operator telekomunikasi saat ini bisa memberikan layanan Wartel di Indonesia. Berbeda dengan awal dekade 1990-an yang membutuhkan ijin seorang Menteri untuk mendirikan satu buah Wartel. Keputusan ini memicu meledaknya jumlah Wartel Telkom, belum lagi jika dikaitkan dengan potensi adanya permainan operator vendor yang membuat pengusaha wartel menghadapi ancaman serius kebangkrutan.

Meski terdesak keras oleh persaingan antar mereka sendiri, sebenarnya potensi wartel Telkom saat ini masih sangat besar. Apalagi jika Telkom sebagai operator dapat mengatur dengan lebih baik garda terdepan dari layanan yang mereka berikan. Layanan VoIP, layanan multimedia, layanan internet, layanan komunikasi data sebenarnya bisa dikembangkan dari ratusan ribu wartel yang dimiliki oleh Telkom. Bahkan wartel bisa dikembangkan menjadi sebuah multimedia service yang akan membantu mendongkrak Telkom yang telah mulai berorientasi pada layanan infocom. Belum semua potensi wartel tergali dengan optimal saat ini. Sementara kebutuhan layanan infocom di Indonesia saat ini masih sangat potensial.

REKOMENDASI

Telkom bersama APWI hendaknya bersama-sama melakukan analisa kelayakan usaha wartel di wilayah perkotaan sehingga berdasarkan jaringan yang tersedia dapat dipetakan lokasi tertentu dari suatu wilayah yang masih memungkinkan pertumbuhan usaha wartelnya. Berdasarkan analisa kelayakan usaha tersebut Telkom dan APWI dapat mengeluarkan rekomendasi titik-titik mana saja di wilayah perkotaan tertentu yang masih memungkinkan didirikan usaha wartel dengan tingkat kelayakan ekonomis yang memadai tanpa memberikan dampak negatif bagi keberadaan wartel lain yang berada disekitar titik-titik tersebut.

Analis [ Gempar Ikka Wijaya ] http://www.systemicgroup.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s