Pemerintah Perlu Galang Opini Publik Virtual

Posted: Desember 8, 2011 in Telekomunikasi Indonesia Di Kisaran Tahun 2000-an

Oleh : H. Gempar Ikka Wijaya

ANALISA BERITA (July 14th, 2003)
Pemerintah Perlu Galang Opini Publik Virtual

CUPLIKAN BERITA
1. Situs Resmi Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh (www.detik.com, 14 Juli 2003)

2. GAM Punya Corong di Dunia Maya (www.detik.com, 14 Juli 2003)

DESKRIPSI SINGKAT

Jika selama ini, militer Indonesia belum gencar memberi informasi tentang operasi keamanan di Aceh, kini ada situs yang bisa membantu.
Situs PDMD.NAD.info memberi informasi terbaru tentang operasi militer di Aceh. Beralamat pada http://pdmd-nad.info/ situs ini menyediakan
informasi yang cukup lengkap berkaitan dengan operasi yang berlangsung di Aceh. Informasi yang diberikan pada situs ini adalah informasi versi Penguasa Darurat Militer Daerah-Nanggroe Aceh
Darussalam. Meski, juga terdapat beberapa berita yang diambil dari media nasional.

Situs itu telah menggunakan XHTML 1.1, standar yang disiapkan untuk masa depan HTML. Seperti pengakuan salah satu pengembangnya, situs
ini dibangun menggunakan XHTML versi 1.1. Standar XHTML (extensible hyper text markup language) 1.1 adalah salah satu standar yang ditetapkan W3C (World Wide Web Consortium) sebagai upaya transisi dari HTML ke XML (extensible markup language). Perkembangan XHTML sendiri dimulai dari XHTML 1.0, yaitu formulasi ulang HTML 4 dalam XML. XHTML 1.1 adalah salah satu contoh modularisasi XHTML, dengan keuntungan seperti memudahkan integrasi HTML ke bahasa markup lainnya (misalnya MathML).

Sementara itu Gerakan separatis Aceh (GSA) juga memiliki situs resmi dengan alamat di http://www.asnlf.com/ dan http://www.asnlf.net.
ASNLF adalah kepanjangan dari Acheh/Sumatra National Liberation Front. Kedua situs itu dikendalikan dari markas GAM Swedia. Badan GAM
yang mengoperasikan situs ini adalah Kementerian Penerangan, Direktorat Penerangan dan Media Kutaraja dengan posisi di Jerman.

Kedua situs GAM itu memiliki tampilan lumayan alias tidak dibuat asal jadi. Kontennya juga cukup lengkap. Selain berita-berita terbaru
versi GAM dari medan perang di Aceh, juga berisi sejarah perjuangan GAM. Rilis berita untuk pers dari GAM tersedia di situs ini. Juga terdapat profil lengkap Wali Nanggroe Acheh Darussalam, Hasan Tiro. Hanya saja, karena memang dibuat di Eropa, informasi tentang GAM dari Aceh terlihat minim. Barangkali suplai informasi dari Aceh masih tersendat. Namun, berbagai informasi tentang kegiatan GAM di Eropa terlihat cukup banyak. Misalnya saja foto-foto tentang berbagai
demonstrasi yang dilakukan warga Aceh di kota-kota besar Eropa.

Kesadaran GAM untuk kampanye lewat situs resmi agaknya baru muncul melihat kedua situs itu belum lama dibuat. Pendaftaran domain baru dilakukan pada akhir Oktober 2002. Pendaftaran situs ini dilakukan oleh Ariffadhillah yang beralamat di Neuhoefferstr. 35 Koeln D-50679 Jerman. Kontak administratif kedua situs ini kepada Teuku Hadi dengan alamat Reumontstrasse 2, Aachen, Jerman.

DISKUSI ANALISA

Perang melalui internet menjadi salah satu hal yang patut dipertimbangkan oleh pemerintah Indonesia. Dengan jumlah pengguna internet yang telah mencapai lebih dari 500 juta orang dan terus bergerak mendekati angka 1 Milyar orang, maka internet menjadi salah satu media yang semakin dominan dalam mempertahankan opini baik posisi pemerintah.

Provinsi ke-27 Timor-Timur yang telah merdeka adalah salah satu pelajaran penting yang harus diambil oleh pemerintah dalam mengelola informasi via internet. Adalah Presiden Habibie yang menyebutkan betapa banyaknya opini yang terbentuk berkaitan dengan Timor-Timur di Internet, sesaat sebelum Timor-Timur merdeka. Meski berada dalam
kerangka masalah yang berbeda, GSA juga bisa mengambil keuntungan yang sama seperti yang terjadi di Timor-Timor.

Pemerintah masih sangat lemah dalam menggunakan internet untuk mendukung promosi penegakan konsep NKRI di Aceh. Walaupun beberapa kalangan pemerintahan mengakui bahwa promosi besar-besaran di internet perlu dilakukan.

Belum ada satuan khusus di dalam pemerintahan
yang dibentuk untuk mengantisipasi pembentukan opini publik via internet ini. Pemerintah melalui
Kementerian Kominfo juga masih terlalu sibuk membangun konsep SISFONAS dan juga e-government dibandingkan berusaha mengelola opini yang terbentuk di dunia virtual.

Acungan jempol patut diberikan kepada pemerintah daerurat sipil yang telah berani berinisiatif menluncurkan situsnya. Akan tetapi langkah
ini saja tidak cukup. GSA juga telah melakukan hal yang sama, meluncurkan situs untuk membentuk opini publik virtual. Bahkan GSA telah meluncurkan situs ini jauh lebih dahulu dari pemerintah Indonesia.

Meski demikian tampaknya situs yang dibangun ini masih belum sempurna muncul di situs ww.ri.go.id. Situs yang mewakili pemerintah Indonesia
di dunia virtual ini memang menjadi salah satu link di situs pemerintah darurat NAD akan tetapi sebaliknya situs pemerintah darurat militer ini tidak langsung dapat muncul di situs pemerintah.
Kondisi yang tidak saling mendukung antara situs pemerintah pusat dengan pemerintah darurat sipil ini juga berpengaruh pada penggalangan opini publik yang dikaitkan dengan domain resmi pemerintah indonesia.

Pemakaian teknologi berbasis XHTML yang dipilih oleh pemerintah darurat militer sudah cukup baik. Keuntungan lain dari XHTML adalah memudahkan untuk menampilkan halaman situs pada perangkat berbasis teknologi terbaru misalnya untuk menampilkan situs di pesawat telepon genggam. Ini bisa dilakukan dengan membuat style sheet tertentu. Meski demikian keuntungan dan kelebihan ini tidak berarti apa-apa jika tidak ditujukan untuk kampanye opini virtual dengan lebih efektif.

REKOMENDASI

Pemerintah perlu lebih serius menangani penggalangan oponi lewat internet ini. Perlu dipentuk satgas khusus di bawah koordinasi Kementerian Kominfo untuk menggalang promosi dan penggalanagan opini virtual ini secara terus menerus. Jika tidak mampu membentuk team khusus sebaiknya pemerintah menunjuk lembaga profesional nasional untuk menangani perang di internet ini.

Pemerintah juga perlu memikirkan backup team khusus yang melengkapi perang virtual ini. Sebuah team yang terdiri dari kelompok cracker yang handal sebaiknya disiapkan untuk melakukan gangguan khusus kepada situs-situs lawan dari pemerintah Indonesia. Langkah ini perlu dilakukan untuk membungkam upaya pemunculan opini secara terus menerus di internet. Team ini sebaiknya melakukan tugas 24 jam penuh untuk terus menereus memantau domain-domain GSA atau gerakan separatis lain, menyerang dan membungkam domain-domain ini. Sehingga perang dan penegakan konsep NKRI yang terus dilakukan oleh TNI di Propinsi NAD tidak menjadi sia-sia di dunia virtual.

Analis [ Gempar Ikka Wijaya ] (www.systemicgroup.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s