Hot Spot Mulai Mengejar Seluler ?

Posted: Desember 8, 2011 in Telekomunikasi Indonesia Di Kisaran Tahun 2000-an

Oleh : H. Gempar Ikka Wijaya

ANALISA BERITA (October 13th, 2003)
Hot Spot Mulai Mengejar Seluler

CUPLIKAN BERITA
7 Perusahaan bentuk konsorsium layani WLAN
(Senin, 13 Oktober 2003 9:33:40 AM, http://www.bisnis.com, http://www.telkom-indonesia.com)

DESKRIPSI SINGKAT

Tujuh perusahaan membentuk Indonesian Wi-Fi Consortium (IWC) untuk mengembangkan wireless local area network (WLAN) bagi keperluan publik dengan target membangun 10 hotspot hingga akhir 2003.

Konsorsium itu terdiri dari PT Acer Indonesia, PT Cyberindo Aditama (CBN), Cisco Systems Indonesia, PT Intel Indonesia, PT Microsoft Indonesia dan PT Jaring Semesta Infosolusi (Polaris|NET), didukung PT Elexmedia Komputindo.

Tjahja Suprapto, wakil IWC dari PT Jaring Semesta Infosolusi, menjelaskan pembentukan organisasi ini bertujuan mengedukasi masyarakat sekaligus mengembangkan pasar Wi-Fi untuk keperluan publik di Tanah Air.

“Memang ada model bisnisnya, tetapi fokus kami saat ini adalah bagaimana Wi-Fi diterima dengan baik sebab pemerintah pun belum menentukan regulasi yang pasti mengenai Wi-Fi ini,” tuturnya usai peluncuran konsorsium akhir pekan lalu.

Konsorsium sudah membangun total enam hotspot di Jakarta sehingga dengan proyek ini mereka ditargetkan memiliki 16 hotspot di Ibukota hingga akhir tahun ini yang seluruhnya berlokasi di kafe-kafe strategis.

Wi-Fi atau wireless fidelity adalah teknologi komunikasi nirkabel yang mengikuti standar internasional 802.11b dan beroperasi pada frekuensi 2,4GHz. Hotspot adalah node akses berbasis Wi-Fi yang memungkinkan piranti bergerak dengan komponen wireless card mengakses Internet, termasuk mengoperasikan e-mail.

Mereka tidak bersedia mengungkapkan berapa nilai total proyek pembangunan 10 hostpot namun masing-masing perusahaan menyediakan peralatan, implementasi, edukasi pasar dan promosi yang dibutuhkan.

Piranti keras disumbangkan oleh Acer (komputer) dan Cisco Systems (switching, access point) dan Intel dengan piranti lunak dari Microsoft, sedangkan CBN menyediakan akses layanan Internet.

Pembangunan 10 hotspot itu dikerjakan secara bertahap oleh PT Jaring Semesta Infosolusi diatas jaringan ADSL Telkom yang berkecepatan 512 kbps.

“Kapasitas ini bisa ditingkatkan hingga maksimal 18Mbps, kami akan melihat bagaimana respons dari pasar,” ujar Tjahja.

Dani Sumarsono, chief executive officer (CEO) PT Cyberindo Aditama, mengatakan hotspot wireless fidelity (WiFi) merupakan layanan nilai tambah dari penyelenggara jasa Internet kepada pelanggannya.

“Mereka kini bisa mengakses Internet secara nirkabel dari mana saja, menggunakan laptop, PDA atau mobile device yang lain,” katanya.

Dia mengungkapkan rencana CBN menyediakan kartu prabayar untuk mengakses Internet bagi pengguna yang bukan pelanggan PJI tersebut. Rencana ini selambatnya diwujudkan sebelum akhir 2003 ini setelah kualitas hotspot dinilai baik.

Budi Wahyu Jati, country manager PT Intel Indonesia, belum bisa memastikan apakah konsorsium ini akan mengajak perusahaan telekomunikasi untuk bergabung walaupun dia menyatakan kemungkinannya itu tetap ada.

“Keanggotaan konsorsium bisa berkurang ataupun bertambah namun yang jelas untuk saat ini belum ke arah telekomunikasi,” ujarnya.

Seperti diketahui, Telkom bekerja sama dengan anak usahanya Telkomsel berencana membangun 50 hotspot Wi-Fi di Jakarta, diawali dengan pengoperasian sembilan hotspot di IbuKota.

Wi-Fi yang beroperasi di frekuensi 2,4GHz ini dinilai praktisi telematika belum jelas aturan mainnya. Selain regulasi frekuensi, PJI juga mengeluhkan masuknya perusahaan bermodal kuat ke bisnis ini.

DISKUSI ANALISA

Persaingan antara mobile service berbasis telekomunikasi dan internet mulai muncul di Indonesia. Meski masih dalam tahap embrio akan tetapi persaingan dua layanan ini mulai tumbuh di Indonesia.

Di tingkat internasional persaingan dua layanan ini sebenarnya telah terjadi dengan sangat sengit. Mobile service dengan basis teknologi telekomunikasi konvensional dibeberapa lokasi dunia bahkantelah mulai digeser oleh layanan berbasis teknologi internet ini.

Hot Spot yang berbasis teknologi WLAN bahkan dibeberapa lokasi sudah sedemikian mendominasi kegiatan bisnis. Belum matangnya standar dan teknologi 3G yang mampu memberikan layanan yang setara menjadi kunci kelemahan. Sehingga HotSpot WLAN menjadi pilihan yang cukup menggantikan. Ditambah dengan penetrasi perangkat mobile internet yang relatif telah cukup bagus di dunia.

Di Indonesia beberapa kendala masih akan dialami jika ingin membuat layanan Hot Spot seperti ini sukses. Penetrasi perangkat mobile internet yang masih sangat rendah. Penetrasi PDA misalnya saat ini masih sedemikain rendah.

Yang kedua adalah masih sangat sedikitnya pelanggan yang teredukasi dengan layanan ini. Akses internet di Indonesia masih santat sedikit. dengan jumlah pengakses kurang dari 5 juta orang sangat sulit mengembangkan pelayanan Hot Spot ini masuk kedunia bisnis.

REKOMENDASI

Perlunya pembentukan pasar yang lebih baik lagi. Edukasi pasar harus terus dilakukan.
Layanan normal baru layak dilakukan jika penetrasi perangkat imternet akaes sudah cukuo tinggi, Selama belum tercapai angka aman ini, sebaiknya proses hanya ditujukan untuk noiche market dan edukasi para calon pengguna

Analis [ Gempar Ikka Wijaya ] (www.systemicgroup.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s