Analisis Multi Aspek Telkom Flexi

Posted: Desember 8, 2011 in Telekomunikasi Indonesia Di Kisaran Tahun 2000-an

Oleh H. Gempar Ikka Wijaya

ANALISA BERITA (June 10th, 2003)
Analisis Multi Aspek Telkom Flexi

CUPLIKAN BERITA
TELKOM Bangun 125 BTS di Wilayah Jakarta (www.telkom.co.id, Senin, 09 Juni 2003 7:17:48 AM)

DESKRIPSI SINGKAT

PT Telkom Divre II mentargetkan bisa membangun 125 BTS (Base Transciever Station) dan memasarkan 300.000 SST TelkomFlexi hingga akhir tahun ini.
Sumilan, kepala Divre II PT Telkom, mengemukakan layanan fixed wireless dari PT Telkom itu ditujukan masyarakat Jakarta yang sadar berhemat dan aktivitasnya tidak terlalu berpindah-pindah (mobile). Melalui layanan tersebut maka pengguna TelkomFlexi dapat melakukan pembicaraan secara mobile dalam jangkauan terbatas namun tetap dengan memakai pulsa lokal.

“Hingga akhir tahun ini kami menargetkan dapat menyediakan 300.00 sst bagi pelanggan yang ada di Jakarta. Kami optimistis target tersebut dapat tercapai mengingat saat ini masih ada sekitar 350.000 daftar tunggu untuk sambungan telepon tetap di Jabotabek, dan harga [pulsa] yang ditawarkan lebih murah dibandingkan pemakaian telepon seluler,” ujarnya di Jakarta akhir pakan lalu.

Dia menjelaskan hingga akhir tahun ini PT Telkom Divre II akan membangun 125 BTS yang akan ditempatkan di atas gedung-gedung tinggi yang dilakukan secara sewa. Satu BTS ini bisa menjangkau radius sekitar 15 km. “Dengan cara ini maka investasi yang ditanamkan menjadi relatif murah dibandingkan bila membangun jaringan telepon tetap yang harus ditanam di tanah,” ujarnya.

Sumilan menandaskan paling lambat hari ini [Senin] pelayanan untuk mendapatkan sambungan TelkomFlexi dipermudah, yaitu masyarakat hanya perlu membawa KTP (kartu tanda penduduk) dan mengisi formulir yang disediakan PT Telkom. Untuk mendapatkan nomor pengguna, konsumen harus memiliki terlebih dahulu handset yang menggunakan teknologi CDMA, dan setelah itu bisa langsung kring.

Hingga Agustus, lanjutnya, biaya otomutasi-yaitu penggunaan TelkomFlexi secara berpindah dari satu area ke area lain-digratiskan. Selain itu layanan SMS juga gratis, namun baru bisa dilakukan antarsesama pengguna TelkomFlexi. “Hingga Agustus kami mentargetkan mampu menyediakan 80.000 SST TelkomFlexi,” ujarnya.

Setelah Agustus, lanjutnya, biaya otomutasi akan dikenakan charge sebesar Rp50 per menit, namun kepastiannya masih menunggu keputusan dari pemerintah-yang sedang digodok bulan ini-dan aturan tersebut juga akan memuat soal luas cakupan area yang diizinkan.

PT Telkom, ujarnya, mengusulkan konsep luas area untuk otomutasi mencakup satu Kandatel. TelkomFlexi dapat dipakai dalam cakupan seluruh wilayah DKI dan sekitarnya, atau hingga batas layanan tersebut masih ter-cover oleh BTS yang ada.

Sumilan menandaskan dengan adanya layanan TelkomFlexi ini maka masyarakat lah yang akan diuntungkan, yaitu memperoleh layanan telepon dengan harga yang lebih murah.

DISKUSI ANALISA

Banyak hal menarik yang dapat dianalisis setelah Telkom meluncurkan layanan telkom flexi bebasis CDMA ini. Mulai dari aspek teknis, aspek layanan telekomunikasi, bahkan sampai aspek pemasaran telekomunikasi.

Dari aspek teknis muncul satu masalah baru ketika sebuah teknologi seluler diluncurkan. Masalah pembangunan BTS seluler menjadi salah satu masalah baru yang sampai saat ini belum ditemukan solusinya oleh regulator.

Sampai saat ini belum ada regulasi yang mengatur dengan jelas pembangunan bacbone seluler ini. Di Jakarta saja sampai saat ini tidak kurang dari 1000 lebih BTS yang telah dibangun oleh operator telekomunikasi. Sebanyak 125 buah BTS baru dibangun oleh Telkom untuk malayani pelanggan CDMA fixed wirelessnya. Jumlah ini bisa membengkak sesuai dengan tingkat kualitas layanan yang akan mereka berikan. Semakin tinggi tingkat kualitas layanan yang akan diberikan, akan jauh semakin besar pula jumlah BTS yang akan diabangun.

Jakarta dan juga Indonesia akan menjadi kawasan yang dipenuhi oleh ribuan BTS yang dimiliki oleh berbagai macam operator telekomunikasi. Saat ini saja sangat sering dijumpai dalam satu lokasi yang berjarak hanya beberapa meter berdiri beberapa BTS dari operator telekomunikasi yang berbeda.

Tidak ada regulasi pemerintah yang mengatur hal ini. Di level pemerintah pusat hal ini tidak diatur apalagi di level pemerintah daerah. Bagi pemerintah daerah bisa berlaku kondisi semakin banyak BTS semakin banyak juga pendapatan daerah dari pajak BTS yang mereka dapatkan. Apa yang akan terjadi jika hal ini tidak diatur sejak awal oleh regulator.

Hal kedua yang cukup menarik untuk dianalisis adalah sisi aspek pemasaran layanan CDMA Telkom ini. Meski telah memiliki berbagai keunggulan teknis yang dimiliki, biasanya Telkom melakukan langkah yang kurang strategis dalam pelayanan telekomunikasi ini.

Sampai saat ini penjualan layanan CDMA Telkom masih belum mampu menyaingi gaya penjualan yang telah dipakai oleh operator seluler. Pola penjualan yang masih terpusat dan terkontrol di Kantor-kantor daerah Telkom dalam jangka panjang akan memukul layanan telekomunikasi yang mereka berikan.

Pola pemakai telekomunikasi yang saat ini tersebar dan lebih menyukai gaya penjualan putus akan menjadi lawan utama layanan CDMA yang diberikan oleh Telkom. Pemakaian gaya penjualan prepaid yang dipakai oleh operator seluler sangat membantu penyebaran layanan produk mereka.

Selain itu pola penjualan produk gaya lama yang selama ini dipakai oleh Telkom sangat mengundang campur tangan calo atau munculnya biaya-biaya siluman yang biasa muncul dalam layanan PSTN yang diberikan oleh Telkom. Dengan kecepatan layanan sampai 30 ribu sst per Kandatel per tahun saja Telkom butuh waktu kurang lebih tiga tahun untuk mencapai total 350 ribu calon pelanggan telekomunikasi yang ada di Divre-2 DKI Jakarta. Angkan ini muncul dari rata-rata perolehan pelanggan baru setiap kandatel di Telkom pert tahunnya.

Angka ini sebenarnya masih sangat kecil dibandingkan dengan tingkat kebutuhan telekomunikasi yang sangat tinggi di Indonesia. Dalam jangka pendek pertumbuhan seluler konvensional saat ini bisa mencapai 13 juta pada akhir tahun 2003. Angka tiga juta terakhir ini muncul dari rata-rata pertumbuhan seluler per tahun di Indonesia. Artinya untuk mencapai jumlah pertumbuhan 3 juta sst baru dalam waktu satu tahun pada saat ini bukanlah hal yang susah.

REKOMENDASI

Regulator
———–
Munculnya layanan baru CDMA sebaiknya semakin membuat sadar regulator pada perlunya membuat regulasi bagi pembangunan perangkat infrastruktur penunjang telekomunikasi seperti BTS. Selain menghemat biaya pembangunan infrastruktur aspek kenyamanan dan efisiensi penggunaan ruang publik akan dapat dijaga dengan baik.

Telkom
——-
Sebaiknya mengubah pola pemasaran layanan telekomunikasinya dengan lebih terbuka, untuk dapat meraih jumlah pelanggan telekomunikasi yang jauh lebih besar lagi

Analis [ Gempar Ikka Wijaya ] (www.systemicgroup.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s