MENGHAJAR RAKYAT DENGAN KENAIKAN TARIF TELEPON

Posted: Desember 2, 2011 in Telekomunikasi Indonesia Di Kisaran Tahun 2000-an

Oleh :

Gempar Ikka Wijaya, S.T.*

Selamat datang 2002, selamat datang tarif telepon baru, selamat menikmati tarif telepon mahal.

 

Setelah absen hampir satu tahun penuh, dunia telekomunikasi kembali meneruskan kebiasaan lama mereka di tahun baru, kenaikan tarif telepon. Rakyat pengguna telepon kembali akan merasakan tarif rata-rata sebesar 15 % mulai 1 Januari tahun 2002 yang akan datang.

Sepanjang tahun 2001 usulan kenaikan tarif telepon selalu berhasil dihadang oleh perlawanan rakyat. Bulan Juni 2001 yang lalu usulan kenaikan tarif sebesar 21,67 % ditolak oleh DPR. Beberapa pengamat melihat kejanggalan usulan kenaikan 21,67 % dari pemerintah tersebut. Pengamat telekomunikasi seperti Arifuddin dari Mastel mengungkapkan PT Telkom yang terkait dengan usulan kenaikan tarif telepon ternyata merasakan kenaikan tarif telepon bukan hanya 21,67 %. Kenaikan yang dia hitung berkisar antara 34 % sampai 169 %. Hitungan ini belum seberapa. Roy Suryo yang juga pengamat telekomunikasi mengungkapkan ada kenaikan tarif yang mencapai 2796,7 %. PT Telkom yang ikut menghitung kenakan tarif telepon mereka tidak menyangkal adanya selisih prosentase kenaikan yang beragam itu, akan tetapi mereka menolak jika prosentase kesalahan itu mencapai angka dua ribu persen.

Setahun sebelumnya YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) berhasil menghadang usulan kenaikan tarif dengan melakukan aksi pengumpulan satu juta tanda tangan pelanggan telepon TELKOM. Satu juta pelanggan Telkom ini akan digiring untuk mogok bertelepon atau keluar sebagai pelanggan telepon. Ancaman ini berhasil mengurangi usulan prosentase kenaikan tarif.

Meski demikian tampaknya kenaikan tarif telepon ini tidak akan berhenti oleh ancaman demo dan aksi seperti ini. Pemerintah sendiri memiliki grand strategi menaikkan tarif telepon sebesar 45,49 % dalam jangka waktu tiga tahun ke depan. Rencana awalnya kenaikan akan dilakukan dalam tiga tahapan, 21, 67 % pada tahun pertama, 15,6 % tahun kedua, dan 8,22 % pada tahun berikutnya. Menjelang tahun 2003 tarif direncanakan oleh pemerintah akan dilepaskan pada mekanisme pasar. Itu belum seberapa, beberapa pengamat dalam Telkom bahkan mengusulkan kenaikan sebesar lebih dari 61 %.

Kenaikan tarif telepon di Indonesia bukanlah hal yang aneh. Hampir semua negara berkembang berhadapan dengan masalah ini. Bahkan sebuah studi yang dilakukan oleh Linx Global Telecom Database (1998) mengungkapkan bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki tarif telekomunikasi paling rendah dibandingkan dengan 12 negara di Asia, Afrika, dan Amerika.

Data yang dilansir oleh Link Global tersebut pasti tidak mengungkap betapa lunak model usulan kenaikan tarif telepon yang dilakukan di Indonesia. Negara lain menempuh cara yang jauh lebih kejam terhadap rakyat pengguna telepon mereka. Brasil pernah menaikkan tarif telepon lokal sampai 300 %. Meksiko sepanjang tahun 1994-1995 yang lalu melakukan kenaikan tarif telepon setiap bulan sekali. Kenaikan satu bulan sekali ini dilakukan selama dua tahun berturut-turut.

Faktor Pendukung Kenaikan Tarif

Sebenarnya terdapat beberapa faktor yang dijadikan alasan oleh pemerintah ataupun PT Telkom untuk mendukung kenaikan tarif yang mereka usulkan. Alasan utama yang paling sering diungkapkan adalah untuk menarik investasi baru di bidang telekomunikasi. Indonesia sampai dengan tahun 2004 yang akan datang membutuhkan pembangunan telepon sebesar 4 juta sst. Lebih dari 80 % pendanaan untuk sst baru itu diambil dari investasi luar. Menurut Bugi S, Vice President Bukaka Singtel, sebelum krisis moneter nilai pulsa telepon Indonesia 5 sen dollar per pulsa. Akan tetapi setelah krisis moneter nilainya hanya berkisar 2 sen dollar.

Tarif yang jelek ini membuat investor harus berpikir ulang untuk menanamkan uangnya. Padahal ciri utama investasi bidang telekomunikasi adalah lamanya rate of return atau break event point (BEP) investasi. Idealnya sebuah investasi telekomunikasi harus berhasil mencapai BEP dalam jangka waktu tiga atau empat tahun. Akan tetapi kondisi tarif yang ada di Indonesia akan membuat investasi kembali dalam jangka waktu 14 tahun. Kondisi ini diperparah dengan usia efektif perangkat telekomunikasi yang hanya mencapai 10 tahun.

Belum lagi jika investasi ini dikaitkan dengan jadwal liberalisasi telekomunikasi yang harus segera dilaksanakan oleh pemerintah. Agustus 2002 ini Indosat akan diberi hak menjadi operator PSTN lokal. Setahun kemudian rencananya SLJJ akan dibebaskan untuk dua incumbent Telkom dan Indosat dan SLI akan diberikan kepada Telkom. Jadwal ini akan kacau jika tidak ada investasi yang masuk mendukung ke Indonesia.

Dirjen Postel, Djamhari Sirait, pernah mengungkapkan pengguna telepon bukanlah kelompok rakyat kebanyakan yang berlatar belakang ekonomi lemah. Akan tetapi lebih pada golongan ekonomi menengah dan kelompok industri besar. Menjadikan kelompok ekonomi lemah sebagai alasan menolak kenaikan tarif tidak tepat.

Alasan lain adalah rendahnya tingkat penetrasi telepon di Indonesia. Faktor penetrasi telepon di Indonesia tidak lebih dari 3 %. Padahal menurut ITU faktor penetrasi telekomunikasi sebesar 1 % dapat meningkatkan GDP sebesar 3 persen. Penetrasi telepon menentukan tingkat perekonomian negara. Benny Nasution, ketua dewan pakar Mastel, pernah mengungkapkan bahwa hipotesa ini yang mendorong Cina membangun 2,5 juta sst baru setiap bulan.

 

Serakah Dan Tak Pernah Puas ?

Tidak semua mendukung kenaikan tarif telepon. Jika berani diambil rata-rata, pasti banyak yang lebih memilih tarif tetap dibandingkan tarif naik. Jika ada pilihan tarif turun pasti akan lebih banyak lagi yang memilih. Sinyalemen ini berhasil ditangkap oleh mantan Dirjen Postel, Sasmito Dirdjo. Kepada penulis Sasmito pernah mengungkapkan bahwa karakter masyarakat Indonesia yang membuat penolakan kenaikan tarif telepon.

“Bahkan kenaikan tarif telepon satu rupiah saja akan memicu penolakan di sisi pengguna, “ ungkap Sasmito Dirdjo.

Sebuah tabloid telekomunikasi ibukota, pertengahan tahun 2001 yang lalu melakukan survey terhadap kehendak pelanggan terhadap tarif telekomunikasi. Ada 70 % pelanggan yang menolak kenaikan tarif, sementara sisanya 30 % menerima kenaikan tarif. Bahkan 44,4 % kelompok profesional yang disurvey menganggap kenaikan tarif telepon wajar. Sementara itu YLKI mengungkapkan adanya kenaikan keluhan pada tagihan rekening telepon yang diterima pelanggan dari hanya sekitar 10,9 % pada tahun 1989, melonjak melonjak menjadi 84,78 % pada tahun 1998.

Analisa lain adalah dari sisi efisiensi penggunaan dana telekomunikasi yang ada. Sejak awal penolakan kenaikan tarif telepon berkait dengan dugaan kuat tidak efisiennya penggunaan dana investasi di operator telekomunikasi. Ada tiga operator yang langsung terkena dampak positif kenaikan tarif ini, PT Telkom, Bantan Bintan Telecom (BBT), dan Ratelindo. Agustus 2002 nanti akan ditambah satu lagi operator Indosat-lokal PSTN.

Hipotesa ini menemukan benang merahnya pertengahan November yang lalu ketika auditor independen Amir Abadi Jusuf & Aryanto mengungkapkan kepada publik adanya in efisiensi di tubuh Telkom sebesar 3,72 Trilyun rupiah, seperti yang pernah ditulis oleh Winarko (Jawa Post (29/11)). Ditambah adanya peluang penghematan sebesar 740,882 milyar rupiah yang tidak teraih. Aria West International, mantan partner KSO PT Telkom mengungkapkan adanya hasil penelitian tertutup yang membongkar adanya penguapan dana sebesar 60 sampai 70 juta dollar di tubuh Telkom. Ini diluar tuntutan Aria West sendiri yang memperkarakan Telkom sebesar 1,3 milyar dollar ke Arbitrase Internasional. Simak juga pernyataan Roy Suryo yang pernah mengungkapkan adanya 40 persen dana milik Telkom yang masuk ke tempat yang tidak semestinya.

Simak satu lagi pernyataan yang dilemparkan oleh para pakar telekomunikasi yang mengungkapkan adanya ketidaktepatan perhitungan billing telepon yang berkisar antara 15 – 20 %. Menurut Zakaria Aulia, Senior telco Consultant dari AGIT, ada kemungkinan kesalahan yang cukup besar ketika proses pengalihan data dari CDR ke sistem billing karena banyaknya proses manual dalam pengolahan billing tagihan telepon pelanggan. Proses pembulatan panggilan kurang dari satu menit, dan pembebanan untuk nomor yang terdekat kalau nomor pemangilnya tidak dikenali menjadi salah satu praktek yang biasa terjadi di pengolahan billing telekomunikasi. Ungkapan Zakaria Aulia ini didukung oleh pengamat telekomunikasi seperti Alexander Rusli dan Bambang Patrap dari Yakin Solution, Technology Division Head PT AG-IT. Praktek tidak terpuji seperti ini seharusnya diawasi oleh semacam badan independen yang melindungi kepentingan para pengguna telepon. Di Indonesia hal ini belum ada.

Vice President tarif dan interkoneksi PT Telkom, Mundawiyarto, pernah mengungkapkan kepada penulis bahwa investasi satu satuan telepon PSTN saat ini telah berhasil ditekan sampai 800 dollar, ini turun dari perkiraan sebelumnya 1000 dollar per sst. Hitungan investasi ini masih kalah murah dibandingkan dengan teknologi berbasis seluler yang hanya membutuhkan 500 US dollar per sst.

Sebenarnya dengan menggunakan beberapa teknologi baru investasi telekomunikasi bahkan bisa ditekan 200 sampai 150 dollar US per sst. Atau hanya butuh 1,5 juta rupiah untuk investasi satu sst PSTN. Lebih murah 8,5 juta rupiah dengan kualitas yang sama bahkan mungkin jauh lebih baik. Akan tetapi rupanya alternatif pengadaan telepon PSTN murah ini belum masuk daftar perencanaan pembangunan di PT Telkom. Bayangkan saja jika teknologi terbaru ini bisa dipertimbangkan sebagai alternatif. Dana inefisien sebesar 3,72 Trilyun rupiah ditambah 20 % discrepensi pulsa telepon bisa digunakan untuk membangun 2,48 juta sst baru. Lebih dari 50 % telepon baru berhasil dibangun hanya dengan dana yang diselewengkan (inefiensi) oleh PT Telkom. Bukan jumlah yang kecil. Bandingkan dengan target 4 juta sst yang ingin diraih sampai tahun 2004 oleh pemerintah. Tidak perlu lagi mencari 80 % dana dari luar untuk membangun sambungan baru. Dana yang diselewengkan saja cukup untuk membangun kebutuhan total separuh satuan telepon baru. Hitungan dapat dilengkapi dengan jumlah keuntungan yang berhasil diraih oleh Telkom sepanjang tahun 2000 dan tahun 2001. Sepanjang tahun 2000 Telkom berhasil meraih laba 2,55 Trilyun rupiah. Keuntungan ini mengalami kenaikan mendekati nilai lebih dari 3 Trilyun rupiah, tercermin dari naiknya juga pendapatan operasional yang naik lebih dari 30,4 %. Produksi pulsa telepon sendiri selalu naik dari tahun ke tahun dari sejumlah 28257 juta pulsa di tahun 1995 meningkat hampir dua kali lipat pada tahun 2001 ini. Jadi sebenarnya dengan memanfaatkan dana yang mereka miliki sendiri tanpa adanya investasi baru-pun PT telkom dapat membangun satuan telepon baru, dengan jumlah yang cukup besar. Bahkan tanpa adanya kenaikan tarifpun PT Telkom sebenarnya mampu membangun satuan sambungan telepon PSTN yang ribut dinaikkan tarifnya. Apalagi jika Telkom melakukan konsentrasi usaha di PSTN saja, tanpa melakukan investasi baru ke bidang PMVIS yang selama ini dibangga-banggakan PT Telkom. Ketika rakyat mengalami kesulitan ekonomi, tak ada salahnya operator besar seperti ini ikut berpuasa juga mengikuti denyut nurani rakyat yang sebenarnya sedang berduka dan tertekan. Di saat krisis seperti ini pun sebenarnya operator telekomunikasi seperti Telkom masih dapat berkembang sampai lebih dari 30 %. Sukses berkembang pesat seperti ini adalah hal langka di saat krisis. Selayaknya keberhasilan perkembangan ini juga ikut dirasakan oleh rakyat pengguna.

Boleh jadi mereka menerima kenaikan tarif yang diusulkan oleh pemerintah dan dilaksanakan oleh operator, akan tetapi apalah artinya semua jika nurani rakyat terluka. Boleh jadi secara teknis perhitungan yang dilakukan oleh Telkom dan pemerintah berhasil mengecoh wakil rakyat di DPR, akan tetapi jika harus mengorbankan rakyat, apalah artinya ? .

* Gempar Ikka Wijaya, S.T. , jurnalis Telekomunikasi dan Informatika, tinggal di Jakarta, dan saat ini menjadi salah satu ketua divisi di N-ID Forum, lembaga independen yang memantau perkembangan telekomunikasi dan informatika Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s