INDUSTRI TELEKOMUNIKASI DALAM NEGERI : ANTARA GADGET,JARINGAN,DAN KONTEN

Posted: April 4, 2011 in Bisnis Dan Industri Telekomunikasi

Oleh Gempar Ikka Wijaya

Pembangunan kapasitas jaringan telekomunikasi dilakukan besar-besaran oleh beberapa operator telekomunikasi.Menjadi sebuah kewajaran di sebuah lokasi giga market seperti Indonesia. Ada potensi lebih dari 300 juta pasar yang tidak akan habis potensinya, bahkan akan terus berkembang dengan sangat menakjubkan 5 sampai 10 tahun yang akan datang. Bisnis telekomunikasi akan berkembang pesat tak akan berhenti,kecuali ada upaya untuk menghambatnya. Demikian juga industri gadget yang menjadi pendukung utama telekomunikasi.Industri China, berkembang menyusul industri gadget Eropa dan bahkan gadget Amerika.

Yang menyedihkan dalam perkembangan industri yang sangat besar ini ternyata ada bagian penting dari telekomunikasi yang tertinggal bahkan terkesan tidak diperhatikan dengan serius dan sungguh-sungguh. Gadget dalam negeri ?Tidak pernah mendengar ada gadget buatan asli Indonesia. Padahal di awal tahun 2000an yang lalu sebuah inisiatif dari PT Inti di Bandung sempat menyeruak.Sayangnya handphone buatan PT Inti itu lebih terlihat seperti batu bata dibandingkan dengan sebuah perangkat telekomunikasi. Akan tetapi hal itu sebenarnya tidak boleh menjadi kendala pembangunandan pengembangan lanjutan.Jika generasi pertama seperti batu bata,maka disain yang kedua harusnya lebih cantik lagi,seperti buah kelapa,atau seperti buah pisang,tak apa,asal kreativitas tidak berhenti.Akan tetapi inisiatif seperti itu saat ini tidak pernah kelihatan sama sekali,apalagi dibicarakan sebagai sebuah ide yang kreatif. Kominfo dan Perindustrian sebagai penggerak industri seperti ini tidak pernah terlihat inisiatifnya, atau ada inisiatif akan tetapi tidak pernah terlihat atau tidakpernah diperlihatkan ?

Hal lain yang lebih menyedihkan adalah gagal tumbuhnya konten berbasis dalam negeri yang bisa dinikmati oleh pengguna telekomunikasi dalam negeri. Industri konten yang memiliki potensi raksasaa ini tidak tersentuh sama sekali, kecuali oleh kalangan terbatas kelompok eklusive telekomunikasi.Padahal bisnis di bidang ini sangatlah besar potensinya. Coba jika pemerintah sedikit lebih kreatif mengarahkan industri ke kelompok grassroot pengangguran 30 juta yang ada di seluruh Indonesia,atau dengan mengarahkan kepada kelompok berpenghasilan terbatas yang konon jumlahnya lebih dari 60 juta orang di seluruh Indonesia. Atau diarahkan sedikit ke arah timur,barat,dan tengah. Diarahkan ke gunung, laut dan lembah, kata para penyair.Lautan susu dan tongkat ditanam jadi tumbuhan kata Koes Ploes.

Pengarahan yang tepat dapat membantu mengangkat derajat hidup mereka menjadi jauh lebih baik lagi sekaligus memberikan kesempatan putaran uang telekomunikasi di dalam negeri menggerakkan real ekonomi dalam negeri. Pengarahan dari pemerintah yang tepat misalkan ke arah pengembangan mobile commerce sangat dibutuhkan. Mengapa BRTI misalnya, dengan serta merta memanggil dan melarang pengiriman iklan pinjaman uang bank yang disebarkan dengan cara spamming dengan begitu saja ? Sebagai sebuah respon dari ketidaknyamanan pengguna telekomunikasi.

Bukankan kasus ini juga dapat dilihat sebagai sebuah cikal bakal pengembangan konten yang lebih kreatif lagi di masa depan ? Bayangkan 30 juta pengangguran di seluruh Indonesia mendapatkan layanan pekerjaan lewat spamming sms untuk membantu kehidupan mereka dengan melakukan pekerjaan yang didanai oleh APBN, seperti proyek padat karya jaman Orde Baru dahulu. Bukankah akan selesai, pengguran yang jumlahnya 30 juta lebih itu di seluruh Indonesia dengan sedikit berbuat kreatif. Bayangkan betapa banyak yang akan bisa dilakukan jika kreatifitas dikembangkan melalui konsep mobile commerce seperti di atas. Atau pemerintah kita melalui Kominfo, Perindustrian memang sudah tidak lagi berkepentingan dengan masalah yang dihadapi rakyat,seperti ini,yang penting mendapatkan PNBP dari sektor industri dan telekomunikasi sebanyak-banyaknya.

Yang lebih menyedihkan adalah operator telekomunikasi. Mereka yang memegang pasar telekomunikasi harusnya tidak boleh diam saja melihat hal ini. Selain membangun jaringan telekomunikasi,mereka juga harus ikut bertanggung jawab mengarahkan penggunaan dan implementasi dari jaringan yang dibangunnya.Harus ada sedikit dana yang diarahkan untuk membangun rakyat kembali. Mengarahkan CSR untuk membangun industri grass root rakyat. Bukan industri berbasis elite borjuis yang jauh dari semangat kerakyatan.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah munculnya berbagai Asosiasi yang dibentuk untuk mendukung industri konten yang terlihat hanya menjadi sebuah boneka yang tidak mampu kreatif selain hanya mengikuti gerak pemerintah dan industri, mengapa lokasi kantor pusatnya di Jakarta,bukan di Jayapura misalnya. Apakah Industri konten memang hanya boleh berkembang di Jakarta. Mengapa tidak ada ratusan penggiat konten yang tersebar di seluruh kota yang ada di Indonesiayang difasilitasi oleh operator telekomunikasi misalnya ? Mengapa begitu susahnya memberikan sebuah ide konten ke operator telekomunikasi ? Mengapa harus begitu susah dan mahalnya menjual ide konten kepada operator telekomunikasi di Indonesia,kenapa tidak ada regulasi dari pemerintah yang mempermudah siapa memberikan ide konten dan kemudian memberikan tawaran kepada gigamarket telekomunikasi yang ada di Indonesia ? Bayangkan betapa akan meledaknya ekonomi Indonesia ketika semua ide kreatif ekonomi di fasilitasi oleh operator telekomunikasi di Indonesia dan oleh pemerintah. Atau memang sudah tidak lagi mampu memiliki mimpi dan bayangan cita-cita seperti itu ?

Kalau memang sudah tidak memiliki mimpi dan cita-cita seperti itu, lantas di mana tujuan berdirinya negara : “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa…. “. Bukanlah seluruh gerak aktivitas di negeri ini, termasuk gerak aktivitas operator telekomunikasi harus berpijak kembali ke tujuan mulia ini ? Atau tidak, atau bukan seperti itu, atau sudah seperti itu ? (GIW)

—————————————-
CUPLIKAN BERITA :

—————————————-
Sepanjang Tahun 2010, Pengunduhan Aplikasi Capai 7,9 Miliar

Senin, 14 Maret 2011 20:54 WIB
http://www.republika.co.id/berita/trendtek/aplikasi/11/03/14/169387-sepanjang-tahun-2010-pengunduhan-aplikasi-capai-7-9-miliar

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA–

Sepanjang tahun 2010, pengunduhan aplikasi dari berbagai store aplikasi mencapai angka 7,9 miliar unduhan.
Dari jumlah itu, menurut survei yang dilakukan ABI Research, Apple masih mendominasi pengunduhan. Secara akumulasi, pengunduhan dengan menggunakan iPhone sepanjang tahun 2010 mencapai 5,6 miliar unduhan.

Tingginya pengunduhan yang dilakukan para pengguna produk Apple, kata peneliti ABI, Fei Fang, tidak terlepas dari strategi yang dikembangkan Apple. Ia melukiskan Apple sangat fokus kepada para pengguna produknya, termasuk kebutuhan akan dukungan aplikasi.

Pengunduhan yang dilakukan para pengguna Apple memang jauh diatas pengunduhan yang dilakukan di Android Market maupun penyedia aplikasi pihak ketiga yang secara keseluruhan mencapai 1,9 miliar unduhan. Padahal, aplikasi yang dipasok mencapai 130 ribu, atau hampir separuh aplikasi yang disediakan Apple Store saat ini.

Kalangan vendor, tampaknya, akan mulai fokus pada pengunduhan aplikasi ini. Langkah yang sama tampaknya akan dilakukan RIM. Tahun 2010, pengunduhan di Blackberry App World mencapai sekitar 1 miliar.
Redaktur: taufik rachman
Sumber: ABI Research
——————————–
Themes Kreasi Indonesia Diunduh 1,2 Juta di OviStore

Sabtu, 02 April 2011 15:08 WIB,
http://www.republika.co.id/berita/trendtek/internet/11/04/02/lj0mlw-themes-kreasi-indonesia-diunduh-12-juta-di-ovistore
——————————————
Konten Seluler Indonesia Digemari Masyarakat Dunia

Sabtu, 2 April 2011 13:44 WIB.

Kuta (ANTARA News) –

Konten seluler dalam “Ovi Store” hasil kreasi anak bangsa Indonesia ternyata digemari jutaan pemakai komunikasi tanpa kabel itu di berbagai negara di dunia.
“Dari sekitar puluhan pembuat konten di tanah air, beberapa di antaranya memperoleh sukses yang cukup membanggakan, termasuk pasar di luar negeri,” kata Service Marketing Manager Nokia Maretha Dewi saat berada di Kuta, Kabupaten Badung, Sabtu.

Berdasarkan hasil catatanya, saat ini ada sekitar 90 tim atau perusahaan yang membuat konten untuk masuk dalam layanan Ovi Nokia. Dia menjelaskan, ada konten kreasi Indonesia yang diunduh oleh sekitar 1,2 juta orang di dunia. Konten itu berkaitan dengan tema (themes) untuk telepon selular Nokia.

Selain konten tema itu, menurut dia, ada juga yang berjenis permainan cukup banyak digemari oleh masyarakat dunia, karena kreasi itu menarik dan mudah dimainkannya. “Jumlah yang mengunduh konten tersebut diperkirakan akan terus meningkat, sebab masih banyak orang yang memasukkan ke dalam telepon selularnya,” ujarnya.

Maretha mengatakan, hebatnya lagi, konten tersebut masih tergolong baru karena hanya beberapa bulan saja dimasukkan dalam “Ovi Store” Nokia. Hal itu cukup membanggakan, sehingga pihaknya terus mendorong para pembuat konten untuk bisa menghasilkan kreasi yang lebih baik lagi.
“Selain itu, kami juga terus mencari bakat-bakat baru dan membuka kesempatan sebanyak-banyaknya kepada pembuat konten lainnya untuk memberikan hasil ciptaannya ke Nokia,” katanya.

Diakui dia, beberapa usaha dilakukan pihaknya untuk mendorong para pembuat konten lokal agar mau bekerja sama dengan Nokia, salah satunya dengan memberikan pelatihan secara gratis. Selain itu juga, pihaknya terus mencari informasi daerah di Indonesia yang memiliki potensi akan adanya pembuat konten tersebut. Dijelaskan, secara keseluruhan ada 25.000 jenis konten yang terdapat dalam “Ovi Store”. Dari jumlah tersebut belum terlalu banyak konten yang berasal dari Indonesia.
(T.KR-IGT/M026)
—————————————————
Telkomsel Bundling 8 Juta Handset di 2011

Achmad Rouzni Noor II – detikinet
Kamis, 31/03/2011 16:07 WIB

Jakarta –

Telkomsel menargetkan penjualan lebih dari 8 juta produk bundling di 2011 ini. Mulai dari produk high end hingga low end untuk beragam device, modem, maupun gadget lainnya yang memerlukan keberadaan SIM card dan layanan seluler. Menurut VP Channel Management Telkomsel Gideon E Purnomo, strategi bundling yang digencarkannya sejak 2006 lalu ini ternyata cukup sukses merebut hati pasar pengguna seluler di Indonesia yang mulai memasuki masa saturasi.

“Hal ini terbukti dengan jumlah pelanggan seluler kami yang berjumlah lebih dari 95 juta. Di pasar bundling, kami juga masih nomor satu dengan market share 70 persen,” paparnya di FX Music, Jakarta, Kamis (31/3/2011). Saat ini total pelanggan bundling Telkomsel disebutkan Gideon telah mencapai lebih dari 4 juta. Produk-produk bundling di level low end, seperti Nexian Qwerty dan Nokia Seri 1000, mendominasi pasar sesuai dengan karakteristik pasar di Indonesia. “Sebelum meluncurkan program bundling, kami melakukan analisa, melihat kebutuhan pasar, dan mengukur kemampuan ke dalam. Kami selalu menghadirkan produk dan layanan bundling yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen,” kata dia.
Untuk mendukung target 8 juta bundling di 2011, Telkomsel menyiapkan lebih banyak jalur distribusi. Salah satunya dengan menyiapkan pojok khusus yang menjual produk bundling di setiap kantor Grapari Telkomsel di seluruh Indonesia.
“Saat ini sudah ada 23 Grapari yang memiliki pojok khusus yang menjual produk-produk bundling. Ini akan kami perbanyak lagi ke seluruh Grapari di Indonesia. Tahun ini target yang ditetapkan adalah setiap Grapari yang ada di 40 broadband city akan memiliki sales corner yang menjual beragam produk bundling,” tandas Gideon.
( rou / ash )
——————————–
Pelanggan Broadband Telkomsel Naik Kelas,

Andrian Fauzi – detikinet,Senin, 04/04/2011 07:32 WIB

Bandung – Setelah berhasil mengedukasi pelanggannya menjadi broadband mania, Telkomsel Jabar mulai menyebarkan kartu perdana Flash Unlimited. Kebutuhan pelanggannya yang naik kelas ini menjadi satu pendorong Telkomsel Jabar mulai gencar berjualan Flash Unlimited ke outlet-outlet.
Demikian diungkap GM Sales and Customer Service Telkomsel Regional Jabar, Erick Noviantoro saat berbincang dengan detikINET usai melepas 15 pelanggan Telkomsel Jabar yang memenangkan program umroh ke tanah suci.
“Sebelumnya kita edukasi. Dari yang sebelumnya hanya sebagai Flash On mania, sekarang sudah broadband mania. Pelanggan saat ini sudah meningkat kebutuhannya dan menginginkan akses yang tak terbatas dalam berinternetan,” paparnya di Ruang Orchid, Hotel Golden Flower.
Melihat perkembangan tersebut, sambung Erick, sejak awal tahun ini pihaknya mulai gencar memasarkan starter pack Flash Unlimited. Sebelumnya pelanggan yang ingin mendapatkan Flash Unlimited hanya bisa mendapatkannya di GraPARI atau gerai HALO.
“Sekarang ada 5 dealer khusus yang akan mensuplai kartu perdana Flash Unlimited tersebut. Pelanggan di Jabar bisa membelinya langsung layaknya kartu perdana Simpati atau Kartu AS di outlet-outlet yang tersebar di wilayah Jabar,” paparnya.

Peningkatan ini juga sejalan dengan peningkatan revenue baik dari core bisnisnya ataupun dari broadband.
“Secara nasional, kontribusi revenue Jabar tertinggi. Di triwulan pertama 2011 rata-rata lima persen. Broadband menyumbang 12 persen dari revenue tersebut,” ungkapnya. Revenue broadband Telkomsel lumayan melesat tinggi dalam setahun terakhir. Maraknya ponsel Cina dan jejaring sosial mendorong peningkatan revenue broadband Telkomsel Jabar.

Pun demikian, Erick mengungkapkan bahwa dirinya tidak lantas berpangku tangan meraup untung semata dari peningkatan pelanggan broadband tersebut. Tugas berikutnya adalah menjamin kualitas layanan broadband yang dimilikinya.
“Edukasi sudah, pelanggan sudah beranjak menjadi broadband mania. Sekarang tugas saya adalah memastikan dan menjamin kualitas layanan kami. Karenanya tahun ini kita akan menambah 200-an BTS baik 3G ataupun 2G untuk menjamin kualitas broadband kami di Jabar,” tukasnya.
( afz / rou )
————————————-
Telkom & Telkomsel Bangun Fiber Optik di Bali Nusra,

Gede Suardana – detikinetn, Senin, 04/04/2011 14:04 WIB

Bali – Telkom dan Telkomsel terus melakukan ekspansi jaringan broadband. Untuk wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), induk dan anak perusahaan ini akan memanfaatkan fiber optik.
“Seluruh perangkat Telkomsel bahkan sudah siap disambungkan ke fiber optik Telkom pada minggu kedua April 2011 ini,” kata GM Network Operation Telkomsel Regional Bali Nusra, UZ. Titus Titus kepada detikINET, di Grapari Telkomsel Bali, Jl Diponegoro, Denpasar, Senin (4/4/2011).
Titus menambahkan, sangat penting sekali meng-update kesiapan baik Telkom maupun Telkomsel mewujudkan sarana dan layanan komunikasi yang terjangkau, berkualitas di Bali, NTB dan NTT.

GM Sales & Customer Services Telkomsel Regional Bali Nusra, Syaiful Bachri menambahkan masyarakat di NTB dan NTT kini tak lagi bisa telepon atau SMS-an dengan tersedia layanan internet broadband berkualitas didukung dengan fiber optik.
“Dengan beroperasinya fiber optik di seluruh Bali Nusra memungkinkan pelanggan dapat menikmati layanan multimedia dengan sangat lancar,” imbuhnya.
Menurut Arie Fitriyadi selaku EAM Inter Carrier Telkom CIS, jaringan fiber optik Telkom di Bali Nusra untuk mewujudkan target broadband city di 40 kota seluruh Indonesia pada 2011.Telkom dan Telkomsel akan mengalihkan bentuk radio transmisi ke fiber optik. Wilayah Bali sudah selesai penggarapannya, NTB menunggu waktu pengoperasiannya saja. Khusus untuk Maumere ke Kupang akan digarap awal April dan sudah dapat digunakan akhir April 2011. “Kita juga akan membangun jaringan fiber optik ke Atambua dekat perbatasan Timor Leste karena banyak pelanggan Telkomsel di sana,” pungkasnya.
( gds / ash )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s