Industri Telekomunikasi Jenuh Atau Salah Dalam Pemetaan Dan Perencanaan ?

Posted: Maret 15, 2011 in Bisnis Dan Industri Telekomunikasi

Diterbitkan Pertama : 15 Maret 2011 : 09.51 WIB

Oleh : Gempar Ikka Wijaya, Analis Telekomunikasi Senior

Penetrasi Semu Telekomunikasi Nasional

Dari sisi potensi, pertumbuhan industri telekomunikasi masih sangat jauh dari memadai dan memuaskan. Berbeda jauh dengan apa yang dilansir oleh Johnny Swandi Sjam, Ketua Komite Tetap Bidang Telekomunikasi Kadin Indonesia, di Jakarta, Selasa (15/3/2011) sebagaimana yang ditulis oleh detik.Com. Industri Telekomunikasi yang ada saat ini memang seolah-olah mengalami kejenuhan dari tingginya penetrasi penjualan. Akan tetapi angka kejenuhan yang diungkapkan oleh Johnny ini sebenarnya adalah angka kejenuhan semu yang dialami oleh industri telekomunikasi Indonesia. Hal ini terbukti dari naiknya trafik telekomunikasi secara eksponensial dan terisi penuhnya jaringan. Rendahnya revenue yang didapatkan oleh operator telekomunikasi ini secara nyata sebenranya menunjukkan betapa penetrasi tinggi yang terjadi bukanlah penetrasi yang benar-benar secara real terjadi di dunia bisnis dan ekonomi nasional. Anomali ini sebenarnya bisa dilihat dari perumusan sederhana ITU yang menyatakan bahwa penetrasi 1 % telekomunikasi akan meningkatkan 1 digit ekonomi nasional sebuah negara. Jika penetrasi benar-benar terjadi sebesar 84,3 % sebagaimana yang dilansir oleh Ketua Tetap Bidang Telekomunikasi Kadin Indonesia maka ekonomi Nasional juga akan mengalami kenaikan dengan jumlah digit yang besar. Akan tetapi dalam kenyataannya hal ini tidak terjadi dengan serta merta. Artinya kenaikan penetrasi ini gagal diserap oleh lingkungan ekonomi Nasional sebagaimana yang dinyatakan oleh perumusan sederhana ITU tersebut. Dengan kata lain, tingkat penetrasi yang dijadikan patokan oleh Ketua Kadin ini adalah sebuah angka semu yang tidak menunjukkan tingkat penetrasi telekomunikasi yang sesungguhnya. Terbukti dari data penuhnya trafik jaringan dan rendahnya revenue dari operator. Artinya secara real penetrasi yang besar ini tidak menyentuh aspek ekonomi negara secara significant. Hal ini sungguh aneh, dan menunjukkan gejala anomali yang harus diwaspadai dengan baik oleh pengelola telekomunikasi Nasional.

Perencanaan Telekomunikasi Yang Tidak Jelas

Indikator sederhana di atas sebenarnya bisa menunjukkan dengan jelas adanya sebuah kesalahan yang parah atau bahkan fatal dalam pengelolaan telekomunikasi Nasional. Bagaimanakah sebuah pembangunan telekomunikasi, penetrasi telekomunikasi nasional ini, mampu langsung berpengaruh pada lingkungan ekonomi dan bisnis nasional. Sebuah studi harus dilakukan dengan baik untuk melihat tingkat efektifitas pentersi telekomunikasi yang dilakukan di Indonesia. Dan sebuah studi sederhana dapat dilakukan dengan melihat pola sebaran layanan telekomunikasi yang ada di Indonesia. Lebih dari 90 % pembangunan fasilitas telekomunikasi Nasional dilakukan di lingkup area Jakarta atau Jabodetabek inilah masalah utama sebenarnya. Penetrasi telekomunikasi atau teledensitas telekomunikasi Indonesia adalah angka semu yang hanya menunjukkan teledensitas arena Jabodetabek semata. Hal ini yang menerangka kenapa kapasitas jaringan menjadi habis, penetrasi naik tajam, akan tetapi revenue malah turun. Dalam kenyataannya kelebihan fasilittas telekomunikasi berupa kapasitas jaringan yang ada hanyalah menjadi fasilitas yang berfungsi sebagai double back up, atau bahkan triple, kuartet back up dari pemilik fasilitas telekomunikasi tunggal. Pendapatan telekomunikasi tidak naik karena pemakai tunggal menjadikan fasilitas jaringan sebagai back up level dua, tiga, empat, lima, bahkan back up level sepuluh. Secara real jumlah ratusan juta SIM yang terjual hanyalah angka penetrasi semu yang diakibatkan oleh fenomena ini. Artinya banyak potensi ekonomi yang jauh lebih besar terhambat tumbuh karena kesalahan kebijakan dan perencanaan pembangunan telekomunikasi oleh pemerintah dabn pelaku usaha telekomunikasi/operator. Dalam jangka panjang hal ini akan membuat kebutuhan telekomunikasi dan industri telekomunikasi Indonesia masih akan berkembang 5 kali atau bahkan sampai dengan 10 kali lipat di masa depan. Analisis yang menyatakan industri Telekomunikasi Nasional mulai jenuh hanyalah sebuah cermin ketidak mampuan melihat permasalahan sebenarnya dari industri telekomunikasi nasional serta lemahnya analisis terhadap indikator semu telekomunikasi Nasional. Menyedihkan karena ketidakmampuan menganalisis ini justru muncul dari lingkungan Kadin yang justru merupakan motor utama dab perwakilan dunia usaha nasional, dari Kamar Dagang dan Industri Nasional, yang seharusnya mampu memberikan analisis yang jauh lebih baik untuk mendukung perkembangan industri dalam negeri. (GIW)

———————————————–

News Ticker dari Detik.Com

————————————————

Industri Telekomunikasi Mulai Jenuh dan Tertekan

Achmad Rouzni Noor II – detikinet, 15-03,2011

Teledensitas yang tinggi membuat sektor telekomunikasi mulai memasuki masa kejenuhan. Walaupun trafik tiap operator mengalami kenaikan eksponensial dan kapasitas jaringan terisi penuh, namun tidak demikian dengan revenue yang terus tertekan pertumbuhannya. “Industri telekomunikasi di Indonesia pada 2010 lalu diperkirakan memiliki penetrasi hingga 84,3% atau menjual sebanyak 204,8 juta kartu SIM,” kata Johnny Swandi Sjam, Ketua Komite Tetap Bidang Telekomunikasi Kadin Indonesia, di Jakarta, Selasa (15/3/2011).

Angka itu tercatat mengalami kenaikan 8% jika dibandingkan 2009 lalu di mana penetrasi 76,3% dari total populasi penduduk 240 juta jiwa melalui penjualan 183,27 juta kartu SIM. “Penetrasi yang tinggi membuat industri mulai masuk ke masa kejenuhan. Walaupun trafik dari setiap operator mengalami kenaikan yang eksponensial dan kapasitas jaringan terisi penuh, tetapi tidak demikian dengan revenue yang kian tertekan pertumbuhannya,” kata Johnny.

Menurutnya, salah satu pemicu yang membuat industri telekomunikasi di Indonesia memasuki masa kejenuhan adalah tidak adanya batas yang jelas antara pemain seluler dan Fixed Wireless Access (FWA). “Kondisi tidak ada batasan ini membuat salah satu pemain, yakni FWA kian terdesak. Lihat saja dari RPM (Revenue Per Minute) seluler yang mulai menyamai FWA. Ini berarti pasar yang tadinya milik FWA telah digerus oleh pemain seluler,” keluh Johnny. Pemain FWA pun tak bisa berbuat banyak. Apalagi, isu keterbatasan frekuensi menjadi kendala bagi pemain dengan lisensi ini untuk bermain di sektor yang dianggap keluar dari kejenuhan yakni data.

Ia pun menilai, salah satu solusi dari kondisi ini adalah diperlukannya regulator yang kuat dalam memantau atau mengawasi persaingan usaha serta menata kembali industri agar tidak terjadi keadaan dimana satu pihak merasa dalam posisi tidak menguntungkan. Sedangkan kepada seluruh operator, Johnny juga mengimbau agar tetap melakukan persaingan usaha yang sehat khususnya dalam berpromosi. “Tujuannya agar semua operator bisa saling menguntungkan, bukannya malah akan semakin merugikan operator itu sendiri atau bahkan sampai merugikan pelanggan.” ( rou / ash )

—————————————————————————————————————

‘Industri Seluler Indonesia Belum Jenuh’ Ardhi Suryadhi – detikinet
Rabu, 30/03/2011 13:41 WIB

Samarinda – Industri seluler Indonesia dianggap masih begitu seksi. Jauh dari kata jenuh yang sempat dilontarkan sebagian kalangan.
Syakieb A. Sungkar, Vice President Sales & Distribution Axis mengaku tak percaya dengan penilaian yang menganggap industri seluler Tanah Air telah memasuki fase jenuh.

“Jenuh itu kan seperti stres yang diciptakan dari kalkulasi analisis,” tukasnya, ketika ditemui detikINET di Samarinda, Rabu (30/3/2011).
Pengguna seluler Indonesia dikatakan di kisaran 200 juta, atau hampir mengejar jumlah penduduk Tanah Air yang sudah lebih dari 220 juta jiwa.
“Namun, kita harus ingat bahwa banyak orang yang hari ini sudah memiliki lebih dari satu SIM Card, bisa dua, tiga, atau empat. Artinya, penetration rate seluler itu paling setengahnya dari jumlah penduduk,” tukas Syakieb.

Jadinya peluang untuk industri seluler untuk tumbuh masih besar. “Susah berbicara jenuh di negara dengan lebih dari 220 juta penduduk, peluang itu masih ada,” imbuhnya.

“Lihat saja di jalan raya, tak ada habisnya masyarakat menggunakan kendaraan pribadi, termasuk di industri seluler yang semakin lama terus belajar dan berkembang,” Syakieb menandaskan.( ash / wsh )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s